SURABAYA – Tim dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Ketahanan Keluarga dalam Mengelola Stres pada Perawatan Anak dengan Penyakit Kronis melalui Pendekatan Family Resilience Model di Masyarakat” pada Mei hingga Juli 2026 di RT 01 RW 02, Kelurahan Banyu Urip, Kota Surabaya. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan keluarga dalam mengelola stres, meningkatkan ketahanan keluarga, serta mendukung perawatan anak dengan penyakit kronis.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh Siti Nurjanah, S.Kep., Ns., M.Kep. selaku ketua tim, bersama Rahmadaniar Aditya Putri, S.Kep., Ns., M.Tr.Kep. dan Dr. Umdatus Soleha, SST., M.Kes. sebagai anggota dosen, serta Futichatur Rochmah dan Muyassarotul A’yuni sebagai anggota mahasiswa. Program ini mengintegrasikan edukasi kesehatan, pelatihan manajemen stres, penguatan komunikasi keluarga, dan peningkatan keterampilan perawatan melalui pendekatan Family Resilience Model.

Perawatan anak dengan penyakit kronis, seperti diabetes melitus, asma, epilepsi, dan talasemia, membutuhkan keterlibatan keluarga dalam jangka panjang. Selain memastikan anak menjalani pengobatan dan perawatan secara teratur, keluarga juga harus menghadapi perubahan rutinitas, pembagian tanggung jawab, serta tekanan emosional yang dapat memengaruhi kesejahteraan seluruh anggota keluarga.

Berdasarkan survey awal yang dilakukan tim pengabdi, sebagian besar keluarga yang diwawancarai mengungkapkan pengalaman kelelahan emosional dan kesulitan mengelola stres selama mendampingi anak menjalani pengobatan rutin. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan keluarga tidak hanya berkaitan dengan informasi medis, tetapi juga dukungan psikososial dan keterampilan menghadapi tekanan selama proses perawatan.

Melalui pendekatan Family Resilience Model, tim pengabdi berupaya membantu keluarga membangun kemampuan beradaptasi ketika menghadapi situasi sulit. Pendekatan ini menekankan tiga aspek utama, yaitu sistem keyakinan keluarga dalam memaknai masalah, pola komunikasi yang terbuka dan suportif, serta pengorganisasian peran dan tanggung jawab antaranggota keluarga. Ketiga aspek tersebut diharapkan dapat membantu keluarga menghadapi tekanan secara lebih adaptif dan mempertahankan kualitas perawatan anak.

Kegiatan ini melibatkan 30 peserta dan dilaksanakan dalam tiga sesi melalui metode ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, serta praktik langsung. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan tingkat kehadiran penuh. Antusiasme peserta terlihat selama penyampaian materi dan praktik yang dirancang agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Materi pelatihan mencakup pengenalan stres dan dampaknya, strategi coping adaptif, teknik relaksasi, komunikasi keluarga, penguatan ketahanan keluarga, serta pengelolaan peran dalam perawatan anak dengan penyakit kronis. Peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pemantauan kondisi anak, kepatuhan terhadap terapi, dan dukungan psikologis keluarga dalam mendampingi proses perawatan.

Untuk mendukung penerapan materi setelah kegiatan, tim pengabdi memanfaatkan media edukasi berupa booklet berbasis Family Resilience Model, video edukasi, dan lembar pemantauan mandiri. Media tersebut dirancang untuk membantu keluarga memahami materi, mempraktikkan strategi pengelolaan stres, serta menerapkannya dalam rutinitas perawatan di rumah.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya perkembangan pemahaman peserta setelah mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan. Peserta yang sebelumnya masih mengalami kesulitan memahami pengelolaan stres mendapatkan pengetahuan mengenai cara mengenali tekanan emosional, memilih strategi menghadapi masalah, dan menerapkan teknik relaksasi sederhana. Edukasi juga membantu peserta memahami bahwa ketahanan keluarga dapat dibangun melalui komunikasi yang baik, dukungan emosional, serta pembagian tanggung jawab perawatan secara bersama-sama.

Selain itu, peserta diajak melihat bahwa merawat anak dengan penyakit kronis bukan hanya tanggung jawab satu anggota keluarga. Keterlibatan pasangan, anak, maupun anggota keluarga lainnya sesuai dengan kemampuan masing-masing dapat membantu meringankan beban perawatan. Pemahaman ini diharapkan menjadi bekal bagi keluarga untuk menghadapi tantangan perawatan dengan lebih terarah dan saling mendukung.

Program ini juga mendorong keluarga untuk mengenali sumber dukungan yang tersedia di lingkungan sekitar. Dukungan dari kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan keluarga lain yang memiliki pengalaman serupa dapat menjadi ruang untuk berbagi informasi, memperoleh dukungan emosional, dan menemukan cara menghadapi tantangan perawatan sehari-hari.

Keberhasilan pelaksanaan kegiatan turut didukung oleh keterlibatan Ketua RT, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan warga setempat. Dukungan tersebut menjadi modal sosial penting dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kebutuhan keluarga dengan anak yang memiliki penyakit kronis. Kolaborasi antara keluarga dan komunitas juga diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan program setelah pelatihan selesai.

Sebagai tindak lanjut, tim pengabdi merencanakan penguatan kelompok dukungan keluarga (support group), pendampingan melalui kader kesehatan, serta pemanfaatan media edukasi secara berkelanjutan. Upaya ini ditujukan untuk membantu keluarga mempertahankan keterampilan yang telah dipelajari sekaligus membuka ruang berbagi pengalaman dan solusi dalam menghadapi tantangan perawatan anak dengan penyakit kronis.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini mendukung SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya peningkatan kesejahteraan psikologis keluarga dan dukungan terhadap perawatan anak dengan penyakit kronis. Program ini juga sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan edukasi kesehatan yang aplikatif bagi masyarakat, serta mendukung penguatan kemitraan di tingkat komunitas melalui kolaborasi keluarga, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat.

Melalui pendekatan Family Resilience Model, UNUSA berupaya mendorong keluarga agar tidak hanya berfokus pada pengobatan anak, tetapi juga memperhatikan kesehatan emosional, komunikasi, dan kekuatan keluarga dalam menghadapi tantangan jangka panjang. Program ini diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun keluarga yang lebih tangguh, suportif, dan mampu memberikan perawatan yang optimal bagi anak dengan penyakit kronis. (ZN)