SIDOARJO – Tim dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui program “Sekolah Menstruasi” bagi wanita usia reproduktif (WUS) di RW 15 Desa Wage, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, pada Juli hingga Agustus 2026. Kegiatan yang menyasar WUS usia 16–26 tahun tersebut memberikan edukasi mengenai kesehatan menstruasi, pemantauan siklus haid, nyeri menstruasi, serta infertilitas sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan reproduksi dan mendorong deteksi dini gangguan menstruasi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Esty Puji Rahayu, SST., M.Kes. selaku ketua pengabdi bersama Lailatul Khusnul Rizki, SST., MPH., Yati Isnaini Safitri, SST., M.Kes., dan Siska Nurul Abidah, S.Tr.Keb., M.Tr.Keb. sebagai anggota. Program berfokus pada wanita usia reproduktif dengan rentang usia 16–26 tahun di Desa Wage, khususnya masyarakat di RW 15 yang merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas masyarakat usia reproduktif yang cukup tinggi.

Kesehatan menstruasi menjadi salah satu aspek penting dalam kesehatan reproduksi perempuan. Siklus menstruasi yang teratur dapat menjadi salah satu gambaran fungsi reproduksi, sementara perubahan pola menstruasi dapat menjadi tanda adanya gangguan yang perlu diperhatikan. Namun, di tingkat komunitas, pemahaman mengenai menstruasi sebagai bagian dari indikator kesehatan reproduksi masih perlu ditingkatkan.

Banyak wanita usia reproduktif masih menganggap gangguan siklus menstruasi sebagai kondisi yang biasa terjadi sehingga tidak segera melakukan pemeriksaan. Padahal, pencatatan sederhana mengenai pola haid setiap bulan dapat membantu mengenali perubahan siklus dan menjadi langkah awal untuk mendeteksi faktor risiko gangguan reproduksi, termasuk infertilitas.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena infertilitas masih merupakan salah satu permasalahan kesehatan reproduksi yang dapat berdampak pada aspek medis, psikologis, maupun sosial pasangan. Di Indonesia, kejadian infertilitas diperkirakan mencapai sekitar 10–15 persen atau sekitar 4–6 juta pasangan dari 39,8 juta pasangan usia subur. Salah satu penyebab infertilitas pada perempuan adalah gangguan ovulasi yang dapat berkaitan dengan ketidakteraturan siklus menstruasi.

Melalui Sekolah Menstruasi, tim pengabdi memberikan edukasi yang tidak hanya membahas menstruasi secara umum, tetapi juga mengajarkan peserta untuk melakukan pemantauan kesehatan reproduksi secara mandiri. Peserta diberikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi siklus haid, cara menghitung siklus menstruasi, serta cara mencatat siklus tersebut menggunakan aplikasi pada smartphone.

Kegiatan juga dilengkapi dengan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui indeks massa tubuh (IMT) peserta. Pengukuran ini dilakukan karena kondisi berat badan dan IMT dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan gangguan siklus menstruasi. Peserta kemudian diberikan pemahaman mengenai kategori IMT masing-masing sebagai bagian dari edukasi mengenai kesehatan reproduksi secara menyeluruh.

Selain gangguan siklus menstruasi, nyeri menstruasi menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam kegiatan. Peserta diberikan edukasi mengenai cara mengatasi nyeri menstruasi melalui pendekatan nonfarmakologis dan terapi komplementer.

Hasil penelitian tim pengabdi turut menjadi dasar dalam pemberian edukasi tersebut. Penelitian mengenai terapi musik kombinasi suara alam dan piano yang dilakukan pada tahun 2024 menunjukkan adanya perubahan intensitas nyeri menstruasi pada remaja setelah diberikan intervensi.

“Dari hasil penelitian yang kami lakukan pada tahun 2024, sebagian besar remaja mengalami nyeri menstruasi dalam kategori berat, yaitu sebesar 56,7 persen. Setelah diberikan terapi musik kombinasi suara alam dan piano, terjadi penurunan intensitas nyeri dan sebagian besar responden, yaitu 56,1 persen, berada pada kategori nyeri ringan. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi nonfarmakologis seperti terapi musik dapat menjadi salah satu alternatif yang diperkenalkan kepada remaja untuk membantu mengatasi nyeri menstruasi,” ujar Esty selaku ketua pengabdi.

Selain penelitian mengenai nyeri menstruasi, hasil riset tim juga menunjukkan adanya beberapa faktor yang berkaitan dengan infertilitas pada perempuan. Secara statistik, infertilitas berhubungan dengan riwayat operasi perut, indeks massa tubuh (BMI), diagnosis endometriosis, dan sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pelaksanaan Sekolah Menstruasi. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diberikan informasi mengenai siklus menstruasi, tetapi juga diajak memahami berbagai faktor yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi serta tanda dan gejala yang perlu diperhatikan sejak dini.

Peserta diberikan edukasi mengenai infertilitas, faktor risikonya, tanda dan gejala yang perlu diwaspadai, serta langkah pemeriksaan atau rujukan yang dapat dilakukan apabila ditemukan gangguan kesehatan reproduksi. Dengan demikian, peserta diharapkan tidak lagi menganggap perubahan siklus menstruasi atau keluhan reproduksi tertentu sebagai kondisi yang dapat diabaikan.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan menggunakan pendekatan edukatif dan pendampingan. Peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal, kemudian mendapatkan penyuluhan dan praktik terkait siklus menstruasi, infertilitas, nyeri menstruasi, serta pemantauan kesehatan reproduksi. Setelah kegiatan, dilakukan post-test untuk mengetahui peningkatan pengetahuan peserta.

Peserta juga diarahkan untuk melakukan pencatatan siklus menstruasi secara rutin melalui aplikasi selama tiga bulan. Pendekatan ini diharapkan dapat membangun kebiasaan pemantauan menstruasi secara mandiri sehingga perubahan pola haid dapat dikenali lebih awal dan peserta dapat mengetahui kapan perlu berkonsultasi atau mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Program Sekolah Menstruasi juga dirancang agar tidak berhenti pada kegiatan edukasi. Pendampingan pencatatan siklus haid dan pemantauan kesehatan reproduksi diharapkan dapat menjadi kebiasaan yang berkelanjutan di masyarakat. Keterlibatan masyarakat dan kegiatan komunitas yang telah berjalan di RW 15 menjadi modal untuk mengembangkan edukasi kesehatan reproduksi secara berkesinambungan.

Melalui kegiatan ini, tim pengabdi menargetkan sedikitnya 70 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan mengenai siklus menstruasi dan infertilitas. Selain itu, peserta diharapkan mampu menghitung serta mencatat siklus haid dengan benar dan mengetahui kategori IMT masing-masing. Dengan meningkatnya kemampuan tersebut, perempuan diharapkan lebih mampu mengenali perubahan kesehatan reproduksinya dan mengambil langkah yang tepat ketika menemukan tanda atau gejala yang memerlukan pemeriksaan.

Program Sekolah Menstruasi turut mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan literasi dan deteksi dini masalah kesehatan reproduksi perempuan. Kegiatan ini juga mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui pemberian edukasi kesehatan yang aplikatif serta penguatan kemampuan perempuan dalam memantau kesehatan reproduksinya secara mandiri.

Melalui Sekolah Menstruasi, FKK UNUSA berupaya membangun kesadaran bahwa mengenali dan mencatat siklus menstruasi bukan sekadar aktivitas bulanan, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan reproduksi. Edukasi yang dilakukan sejak usia reproduktif diharapkan dapat membantu perempuan lebih peka terhadap perubahan tubuh, mengenali faktor risiko gangguan reproduksi, serta melakukan pemeriksaan dan rujukan secara lebih tepat waktu. (ZN)