Surabaya – Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA) membuka ruang diskusi mengenai isu kesehatan bersama peserta internasional melalui sesi Diabetes Prevention dan Mental Health Corner pada 4 Agustus 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian BRAVE 6th UNUSA, program internasional tahunan yang diikuti peserta dari berbagai negara, di antaranya Thailand, Madagascar, Indonesia, Timor Leste, Nigeria, Kenya dan Filipina.
Sesi yang menghadirkan dua dokter sebagai pemateri tersebut membahas dua aspek kesehatan yang berbeda, yakni Upaya pencegahan diabetes serta pentingnya menjaga kesehatan mental. Selain pemaparan materi, kegiatan ini juga dilengkapi sesi tanya jawab yang memberi ruang bagi peserta untuk berdiskusi langsung dengan pemateri.
Pada sesi Diabetes Prevention, salah satu peserta mempertanyakan hubungan antara faktor keturunan dan pola hidup terhadap risiko seseorang mengalami diabetes. Pertanyaan tersebut mendapat penjelasan dari dr. Evi Sylvia Awwalia, Sp.PD selaku pemateri bahwa faktor genetik memang dapat berperan dalam meningkatkan risiko diabetes. Namun, pola hidup menjadi salah satu faktor yang lebih dominan.
“Diabetes memang bisa berasal dari keturunan, tetapi pola hidup merupakan faktor yang paling dominan,” ujar dr. Evi Sylvia Awwalia, Sp.PD.
Penjelasan tersebut memberikan pemahaman bahwa seseorang dengan riwayat diabetes dalam keluarga tidak serta-merta akan mengalami penyakit yang sama. Selama pola makan, aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup sehat tetap dijaga.
Pembahasan berlanjut melalui sesi kesehatan mental yang menyoroti isu bunuh diri sebagai perhatian di berbagai negara serta bagaimana seseorang dapat merespons seseorang yang diduga sedang mengalami kondisi tersebut.
Menanggapi hal itu, dr. Windy Tiandini, Sp.KJ menekankan pentingnya membangun komunikasi yang penuh empati, dimulai dengan bertanya langsung tanpa menghakimi.
“Kadang kita bisa mulai dengan bertanya, ‘Apakah kamu baik-baik saja?’ tanpa men-judge apa pun,” jelas dr. Windy Tiandini, Sp.KJ.
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu awal untuk membuka komunikasi dan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menyampaikan apa yang sedang dirasakan. Dalam konteks kesehatan mental, sikap mendengarkan dan tidak menghakimi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang lebih suportif.
Kegiatan ini turut mendukung SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui upaya meningkatkan pemahaman masyarakat internasional tentang pencegahan diabetes serta pentingnya kesehatan mental.
Melalui kegiatan tersebut, FK UNUSA turut menghadirkan pengalaman pembelajaran yang menggabungkan edukasi kesehatan dengan interaksi lintas budaya. Rangkaian BRAVE 6th UNUSA menjadi ruang bagi peserta dari berbagai negara untuk tidak hanya mengenal lingkungan akademik UNUSA, tetapi juga bertukar pengetahuan dan perspektif mengenai isu kesehatan yang relevan secara global.(AN)