Bullying di sekolah bukan sekadar persoalan kenakalan remaja. Dampaknya bisa merenggut kesehatan mental siswa, merusak rasa percaya diri, dan memunculkan luka yang tak terlihat. Lebih menyedihkan lagi ketika diskriminasi dilakukan terhadap siswa berkebutuhan khusus yang seharusnya mendapatkan dukungan lebih besar. Upaya mencegah kekerasan menjadi semakin penting agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman bagi semua. Dalam semangat pendidikan berkualitas, guru pun dituntut berperan menjaga keadilan bagi setiap peserta didik, memastikan tidak ada satu pun anak yang dibiarkan berjuang sendirian menghadapi perundungan.
Melihat urgensi tersebut, sebuah kegiatan pengabdian masyarakat diadakan pada 30 Juli 2025 melalui Zoom Meeting dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Kegiatan yang mengangkat tema “Peran Guru sebagai Konselor dalam Menangani Kasus Bullying pada Siswa Berkebutuhan Khusus” ini menyasar guru-guru SMP yang tergabung dalam MKKS Surabaya Utara, khususnya para pengajar Bahasa Inggris, serta mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Meski berlangsung secara daring, antusiasme peserta tidak kalah dengan kegiatan luring. Para guru menyambut kegiatan ini sebagai kesempatan untuk memperkaya wawasan dan meningkatkan kemampuan pendampingan kepada siswa.
Tujuan utamanya sederhana namun berdampak besar: meningkatkan pemahaman guru mengenai strategi pencegahan dan penanganan bullying serta memperkuat peran mereka sebagai konselor di sekolah. Karena pada kenyataannya, guru sering kali menjadi sosok pertama yang mengetahui perubahan perilaku siswa korban bullying. Dengan bekal yang tepat, guru dapat melakukan tindakan preventif maupun responsif sebelum kasus berkembang dan meninggalkan trauma lebih dalam.
Dalam webinar tersebut, lima strategi penting disampaikan secara komprehensif. Pertama, membangun hubungan positif antara guru dan siswa agar mereka merasa aman untuk bercerita. Kedua, melakukan deteksi dini serta observasi perilaku anak yang menunjukkan tanda-tanda menjadi korban maupun pelaku bullying. Ketiga, memberikan layanan konseling yang tepat sesuai kebutuhan psikologis siswa. Keempat, menjalin kolaborasi dengan orang tua dan pihak sekolah lainnya agar penanganan lebih efektif. Kelima, mengedukasi peserta didik serta menciptakan proses mediasi untuk menumbuhkan empati dan kesadaran sosial di lingkungan sekolah. Semua strategi ini dirancang agar guru mampu memberi pendampingan yang tepat bagi siswa dengan kebutuhan khusus, khususnya penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD).
Dua narasumber berkompeten hadir dalam webinar ini, yaitu Dr. Tiyas Saputri, S.S., M.Pd., dan Dr. Machmudah, S.Psi., M.Psi. Mereka memaparkan materi dengan pendekatan yang aplikatif dan mudah dipahami, sehingga peserta bisa langsung membayangkan penerapannya di kelas. Tidak heran bila partisipasi guru sangat tinggi dari awal hingga akhir. Faktanya, jumlah peserta melampaui ekspektasi. Target awal panitia hanya 50 peserta, namun tercatat 90 guru SMP bergabung melalui Zoom Meeting. Mereka tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi aktif bertanya dan menyampaikan kendala nyata yang mereka hadapi dalam menangani bullying pada siswa berkebutuhan khusus.
Respon positif juga terlihat dari hasil wawancara terhadap lima peserta yang dijadikan sampel. Mereka mengaku memiliki motivasi yang kuat untuk menguasai strategi penanganan bullying, bahkan berharap dapat menerapkannya secara konsisten dalam pembelajaran sehari-hari. Guru menyadari bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuan mereka memastikan setiap siswa merasa aman dan dihargai.
Tidak hanya dari penuturan peserta, data yang dihimpun melalui pre-test dan post-test turut memperkuat keberhasilan kegiatan. Nilai para guru meningkat signifikan setelah mengikuti sesi penyampaian materi dan simulasi. Ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman sekaligus kesiapan guru dalam menjalankan peran sebagai konselor di sekolah.
Acara ini pun layak disebut berhasil secara menyeluruh: materi tersampaikan dengan baik, partisipasi melampaui target, pemahaman peserta meningkat, dan semangat mereka untuk melindungi siswa berkebutuhan khusus semakin menyala. Meskipun dilakukan secara daring, dampaknya terasa nyata pada kesiapan guru menghadapi tantangan sosial di sekolah mereka masing-masing.
Pada akhirnya, kegiatan ini mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak hanya soal kecerdasan akademik. Ini tentang empati, perlindungan, dan penghargaan terhadap keberagaman kemampuan setiap peserta didik. Guru adalah benteng pertama yang bisa mencegah kekerasan dan memastikan setiap siswa tumbuh dalam lingkungan yang sehat. Ketika pendidik dibekali ilmu dan strategi yang tepat, maka sekolah dapat menjadi tempat yang lebih aman, inklusif, dan membahagiakan bagi siapa pun yang belajar di dalamnya.
Semoga langkah ini terus berlanjut, menjadi inspirasi bagi sekolah lain, dan membangun gerakan pendidikan yang lebih manusiawi. Sebab setiap anak, tanpa kecuali, berhak merasa diterima, dilindungi, dan dicintai di sekolahnya. Pendidikan sejati dimulai ketika setiap suara anak dihargai, termasuk suara yang selama ini tak terdengar karena tertutup stigma dan diskriminasi.(***)