PENDIDIKAN yang baik bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Hal ini membutuhkan pendidik yang tidak hanya mahir dalam mengajar, tetapi juga imajinatif, kreatif, dan mampu menginspirasi optimisme pada generasi mendatang. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pendidikan di era Society 5.0 adalah bagaimana memastikan bahwa pendidikan bersifat berkelanjutan, relevan, dan membebaskan proses berpikir siswa. Di sini, para pendidik muda mengambil peran utama. Mereka harus hadir dengan gagasan, karya, dan keberanian untuk mengubah masa depan pendidikan Indonesia agar selaras dapat mewujudkan pendidikan yang berkualitas, inovasi, industri kreatif, hingga pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Fenomena ini mendorong terciptanya Festival Gema Pradana (GPF). Inisiatif ini, yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Pendidikan Guru dan Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama di Surabaya, menyediakan wadah bagi pemuda yang ingin menggunakan pendidikan sebagai sarana perubahan. GPF bukan hanya festival biasa, melainkan perayaan semangat inovasi yang melibatkan pelajar SMA/SMK hingga mahasiswa PGSD se-Indonesia dalam satu rangkaian kegiatan yang dinamis dan penuh energi.

Kegiatan ini terselenggara berkat semangat mahasiswa PGSD UNUSA yang yakin bahwa budaya akademik tidak boleh hanya hidup di ruang kuliah. Mereka ingin menghadirkan pembelajaran yang berhubungan langsung dengan realitas di lapangan, terutama terkait kebutuhan guru berkualitas demi keberlanjutan pendidikan dasar. Karena itu, GPF menjadi wadah untuk memperkuat jejaring antar mahasiswa calon guru, berbagi praktik baik, serta menumbuhkan kesadaran bahwa kreativitas dan penelitian bukan milik akademisi senior saja. Bertempat di lingkungan kampus UNUSA dan dilanjutkan di Royal Plaza Surabaya sebagai ruang ekspresi publik, GPF dirancang agar mampu memberikan dampak yang lebih luas dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Rangkaian acaranya mencerminkan semangat untuk mengembangkan kapasitas mahasiswa secara menyeluruh. Lomba Esai Pendidikan dan Poster Edukatif mengajak siswa SMA/SMK berpikir kritis tentang isu pendidikan dan menuangkannya ke dalam karya yang bernilai. Bagi jenjang mahasiswa, Lomba Media Pembelajaran menjadi ajang adu kreativitas dalam merancang alat bantu ajar yang inovatif dan menyenangkan bagi anak-anak sekolah dasar. Tidak berhenti pada kompetisi, GPF juga menghadirkan talkshow bertajuk “Meretas Jejak Karier Pendidik Masa Kini”, yang menghadirkan narasumber inspiratif dari alumni yang sudah berkarier di berbagai bidang seperti PPG, S2, dan dunia kerja. Semua itu menjadi kegiatan yang sangat menarik dalam acara gelar karya seni berupa drama dan tari yang menunjukkan bahwa pendidik masa depan juga harus memahami seni sebagai bagian dari pendidikan karakter.

Tentu, tidak ada penyelenggaraan besar tanpa tantangan. Koordinasi lintas angkatan menjadi ujian tersendiri karena banyak divisi bekerja secara paralel dalam waktu yang bersamaan. Namun, panitia menjawabnya dengan strategi: pertemuan rutin dalam skala kecil dan timeline yang disusun rapi sebagai penuntun kerja. Jadwal acara yang berdekatan dengan kesibukan akademik mahasiswa juga sempat menghambat persiapan, tetapi beban kerja dibagi secara fleksibel agar semua bisa tetap fokus menjalankan perannya. Kendala teknis lokasi dan perizinan pun muncul, namun mampu diatasi dengan komunikasi intensif bersama pihak Royal Plaza serta dukungan penuh dari kampus. Justru melalui hambatan itulah karakter dan profesionalitas panitia terasah.

Keistimewaan GPF terletak pada skalanya yang nasional dan lintas jenjang, sehingga mampu menjangkau lebih banyak pihak. Festival ini bukan hanya soal kemenangan dalam lomba, tetapi tentang memberi inspirasi, membuka peluang kolaborasi, dan menumbuhkan apresiasi terhadap kreativitas mahasiswa. GPF menunjukkan bahwa mahasiswa PGSD UNUSA mampu melebarkan sayap lebih jauh dari sekadar teori, melainkan menjadi bagian dari industri kreatif pendidikan yang terus tumbuh.

Hasil nyata dari kegiatan ini dapat dilihat dari antusiasme peserta, karya-karya yang inovatif, serta jejaring kolaborasi yang mulai terbentuk. Beberapa media pembelajaran yang diciptakan peserta bahkan berpotensi digunakan sebagai referensi dalam proses pembelajaran di sekolah dasar. Paling penting, tumbuh kebanggaan dan kepercayaan diri dalam diri mahasiswa bahwa mereka mampu berkontribusi bagi terwujudnya pendidikan berkualitas dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Gema Pradana Festival bukan hanya sebuah acara tahunan. Acara iniadalah gerakan kecil yang memberi dampak besar. Dari kreativitas mahasiswa hari ini, lahirlah guru-guru masa depan yang akan menanamkan nilai keberlanjutan dan perubahan positif pada generasi penerus bangsa. Pendidikan yang baik tidak hadir dari langit, melainkan tumbuh dari kerja bersama dan keberanian untuk bermimpi serta berkarya. GPF adalah buktinya, api kecil yang kelak akan menerangi masa depan pendidikan Indonesia.(***)