PANDEMI Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kondisi psikososial, terutama pada lansia. Seiring bertambahnya usia, lansia cenderung mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotorik yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam belajar, memahami informasi, menjaga perhatian, hingga melakukan aktivitas sehari-hari. Penurunan fungsi psikomotorik juga membuat gerakan dan koordinasi tubuh lansia semakin terbatas. Kondisi ini sering kali menimbulkan perubahan kepribadian, rasa cemas, serta ketidakberdayaan yang pada akhirnya menurunkan rasa percaya diri. Akibatnya, banyak lansia yang mengalami kesulitan dalam merawat dirinya secara mandiri dan bergantung pada keluarga.

Data menunjukkan bahwa angka ketergantungan lansia di Indonesia mengalami peningkatan, dari 11% pada tahun 2010 menjadi 14,49% pada tahun 2018 (Kemenkes RI, 2019). Riskesdas 2018 mencatat 74,3% lansia masih mandiri, tetapi 22% sudah dalam kategori ketergantungan ringan. Penyakit degeneratif, salah satunya hipertensi, menjadi faktor utama yang memicu ketergantungan. Di RW 06 Kelurahan Wonokromo misalnya, angka kejadian hipertensi pada lansia mencapai 87%. Sayangnya, masih banyak lansia yang jarang mengikuti kegiatan Posyandu Lansia, sehingga penyakit seperti hipertensi sering tidak terdeteksi dan penanganan menjadi terlambat.

Salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemandirian lansia adalah terapi kognitif atau cognitive behavior therapy (CBT). Terapi ini membantu lansia untuk berpikir positif, meningkatkan rasa percaya diri, serta mendorong mereka agar mampu merawat diri sendiri tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Dengan meningkatnya kemandirian, status kesehatan lansia dapat terjaga lebih baik, imunitas meningkat, dan kualitas hidup mereka pun tetap optimal di usia senja. Upaya ini juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3 yaitu memastikan kehidupan sehat dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua usia, serta SDG 10 yang menekankan pada pengurangan kesenjangan, termasuk akses layanan kesehatan yang adil bagi lansia.

Melihat permasalahan tersebut, dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) melaksanakan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemberian terapi kognitif untuk lansia. Tim pengabdian terdiri dari Yanis Kartini, S.KM., M.Kep., Siti Damawiyah, S.Kep.Ns., M.Kep., Imamatul Faizah, S.Kep.Ns., M.Tr.Kep., serta Bambang Edi Suwito, dr., M.Si. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lansia dalam menjaga kesehatan, mengurangi rasa ketidakberdayaan, sekaligus menumbuhkan kembali semangat hidup yang lebih mandiri.

Dengan penerapan terapi kognitif, lansia tidak hanya mendapatkan dukungan untuk kesehatan mental, tetapi juga diarahkan untuk menikmati masa tua dengan lebih percaya diri, aktif, dan sejahtera. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan lansia, sekaligus berkontribusi pada tercapainya target-target SDGs dalam bidang kesehatan, kesejahteraan, serta keberlanjutan kualitas hidup generasi lanjut usia. (***)