KELUHAN gatal-gatal yang timbul berulang, seringkali datang dari anak-anak yang tinggal di pondok pesantren. Hal ini karena konsep boarding yang diterapkan di pondok pesantren, yang mana hidup bersama dengan banyak orang. Situasi ini membuat kondisi jadi lebih rentan terhadap penularan penyakit, terutama penyakit kulit.
Skabies merupakan salah satu penyakit kulit yang mudah menyebar di lingkungan pondok pesantren. Setidaknya ada sekitar 300 juta kasus skabies di seluruh dunia setiap tahunnya. Penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering dihadapi oleh negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa skabies adalah penyakit tropis yang terabaikan atau Neglected Tropical Disease (NTD).
Tentunya penyakit skabies ini dapat menyebabkan kerusakan pada kulit dan gangguan kenyamanan akibat rasa gatal. Penyakit ini kurang diperhatikan oleh santri di Pondok Pesantren. Hal ini karena kurangnya pengetahuan sehingga terjadinya risiko penularan penyakit skabies. Oleh karena itu, hal ini menjadi prioritas yang perlu dibenahi agar dapat mengurangi risiko penularan penyakit skabies di lingkungan Pondok Pesantren.
Marinda Dwi Puspitarini, dr., M.Si, yang merupakan perwakilan UNUSA bekerja sama dengan mitra Pondok Pesantren Al-Hikam Bangkalan Madura. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat bertema “Sakura : Periksa Kulit Bersama” sebagai deteksi dini penyakit kulit di PP Al-Hikam Bangkalan.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan level pengetahuan santri husada mengenai tanda dan gejala penyakit kulit pada sesama rekan sejawat santri.
kegiatan ini diawali dengan pemeriksaan kesehatan gratis meliputi pengukuran tinggi badan, tekanan darah, pemeriksaan gula darah, konsultasi kesehatan, pemeriksaan kulit, pengobatan gratis. Setelah itu, dilanjutkan penyuluhan tentang skabies.
Dari pretest dan post test yang diikuti oleh 44 santri dapat disimpulkan adanya peningkatan pengetahuan oleh santri mengenai materi Personal hygiene santri dan tanda gejala penyakit kulit. Adapun persentase kenaikan nilai rata-rata pengetahuan santri adalah 12,24%.
Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa kebersihan dan kesehatan kulit dapat meningkatkan risiko timbulnya penyakit. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga kesehatan kulit karena kulit yang kotor akan memudahkan bakteri berkembang sehingga dapat mempengaruhi derajat kesehatan.(***)