Surabaya – Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah cara masyarakat mengelola dan menggunakan uang. Jika dulu pembayaran, transfer, atau menabung harus dilakukan dengan datang langsung ke bank, kini berbagai aktivitas tersebut dapat dilakukan hanya melalui ponsel. Kehadiran financial technology atau fintech membuat transaksi keuangan menjadi lebih cepat, praktis, dan mudah. 

Namun, kemudahan teknologi ternyata belum tentu membuat semua orang semakin memahami keuangan. Masih banyak masyarakat yang belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai cara mengatur uang, menggunakan layanan keuangan, menabung, berinvestasi, maupun mengelola risiko. Kondisi inilah yang menjadi perhatian dalam penelitian berjudul “Efek Mediasi Penggunaan Financial Technology pada Pengaruh Literasi Keuangan Terhadap Inklusi Keuangan” yang diterbitkan dalam Jurnal Akuntansi AKUNESA tahun 2023. 

Apa Itu Literasi Keuangan? 

Sederhananya, literasi keuangan adalah kemampuan seseorang untuk memahami dan mengelola keuangannya dengan baik. Jadi, literasi keuangan bukan hanya tentang mengetahui jumlah uang yang dimiliki, tetapi juga bagaimana uang tersebut digunakan secara bijak. 

Seseorang yang memiliki literasi keuangan yang baik diharapkan mampu membuat anggaran, mengatur pengeluaran, menabung, memahami kredit, mempertimbangkan investasi, dan mengelola risiko keuangan. Dalam jurnal tersebut, literasi keuangan mencakup pengetahuan dasar pengelolaan keuangan, kredit, tabungan dan investasi, serta manajemen risiko. 

Hal ini menjadi semakin penting bagi mahasiswa. Kehidupan mahasiswa saat ini sangat dekat dengan transaksi digital, mulai dari membeli makanan secara online, membayar transportasi, berbelanja melalui marketplace, hingga menggunakan dompet digital. Tanpa pengetahuan keuangan yang cukup, kemudahan tersebut justru dapat membuat seseorang lebih mudah melakukan pengeluaran secara berlebihan. 

Lalu, Apa Itu Inklusi Keuangan? 

Selain literasi keuangan, ada istilah lain yang tidak kalah penting, yaitu inklusi keuangan. Secara sederhana, inklusi keuangan berarti masyarakat memiliki kesempatan untuk mengakses dan menggunakan produk serta layanan keuangan dengan mudah, aman, dan terjangkau. 

Contohnya adalah seseorang dapat memiliki rekening bank, melakukan transfer, menggunakan layanan pembayaran digital, menabung, mendapatkan pembiayaan, atau menggunakan produk keuangan lainnya sesuai kebutuhan dan kemampuannya. 

Artinya, masyarakat tidak hanya perlu mengetahui tentang produk keuangan, tetapi juga harus memiliki akses untuk menggunakannya. Karena itu, literasi keuangan dan inklusi keuangan menjadi dua hal yang penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat. 

gambar generate dari chatgpt.com

Fintech Hadir Membawa Kemudahan 

Di tengah perkembangan teknologi, fintech menjadi salah satu solusi yang dapat membantu masyarakat mengakses layanan keuangan. Fintech menggunakan teknologi untuk memberikan berbagai layanan keuangan secara lebih praktis. 

Saat ini, masyarakat dapat melakukan pembayaran, transfer uang, dan berbagai aktivitas keuangan lainnya melalui perangkat digital. Kehadiran fintech memberikan kemudahan karena layanan keuangan dapat diakses tanpa harus selalu datang langsung ke lembaga keuangan. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa fintech dapat memberikan kemudahan dan menjadi salah satu solusi untuk membantu mencapai inklusi keuangan. 

Tetapi, pertanyaannya adalah: apakah orang yang memiliki pengetahuan keuangan lebih baik otomatis memiliki akses keuangan yang lebih baik? Dan apakah fintech dapat menjadi penghubung di antara keduanya? 

Penelitian pada Mahasiswa UNUSA 

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis dan Teknologi Digital Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Populasi penelitian terdiri dari 455 mahasiswa Akuntansi dan Manajemen, kemudian penelitian menggunakan 85 responden sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner secara online. 

Penelitian ini melihat tiga hal utama, yaitu tingkat literasi keuangan mahasiswa, penggunaan fintech, dan inklusi keuangan. Data kemudian dianalisis menggunakan metode kuantitatif dan aplikasi WarpPLS 8.0. 

Hasilnya Cukup Menarik 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi keuangan tidak memiliki pengaruh yang positif dan signifikan secara langsung terhadap inklusi keuangan. Artinya, memiliki pengetahuan tentang keuangan saja belum tentu membuat seseorang lebih aktif menggunakan atau mengakses layanan keuangan. 

Temuan ini memberikan gambaran bahwa pengetahuan keuangan harus diikuti dengan kemampuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin memahami pentingnya menabung atau mengetahui berbagai produk keuangan, tetapi belum tentu menggunakan layanan tersebut secara optimal. 

Namun, hasil berbeda terlihat pada hubungan antara literasi keuangan dan fintech. Penelitian menemukan bahwa semakin baik literasi keuangan, semakin tinggi pula penggunaan fintech. Hasil pengujian menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan, dengan koefisien jalur sebesar 0,36. 

Temuan berikutnya bahkan lebih kuat. Penggunaan fintech terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap inklusi keuangan, dengan koefisien jalur sebesar 0,83. Dengan kata lain, keberadaan fintech dapat membantu masyarakat memanfaatkan layanan keuangan yang tersedia dengan lebih mudah. 

Sementara itu, penelitian menyimpulkan bahwa penggunaan fintech tidak mampu memediasi secara langsung pengaruh literasi keuangan terhadap inklusi keuangan. Jadi, literasi keuangan tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi lebih inklusif secara keuangan hanya karena menggunakan fintech. 

Teknologi Saja Tidak Cukup 

Dari hasil penelitian tersebut, ada satu pelajaran penting yang bisa kita ambil: kemajuan teknologi harus diikuti dengan peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam menggunakannya. 

Memiliki aplikasi pembayaran digital di ponsel tidak otomatis berarti seseorang sudah memahami keuangan. Begitu juga dengan kemudahan melakukan transaksi. Jika tidak digunakan secara bijak, teknologi justru dapat membuat seseorang semakin konsumtif. 

Karena itu, mahasiswa dan generasi muda perlu memahami cara mengelola keuangan sejak dini. Mulai dari membuat anggaran sederhana, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyisihkan uang untuk tabungan, memahami risiko transaksi digital, hingga lebih berhati-hati dalam menggunakan layanan keuangan. 

Mengapa Hal Ini Penting untuk Pembangunan Berkelanjutan? 

Literasi keuangan dan inklusi keuangan juga memiliki kaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Masyarakat yang mampu mengelola keuangan dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk membuat keputusan ekonomi yang lebih bijak. Sementara itu, akses terhadap layanan keuangan dapat membantu masyarakat memanfaatkan berbagai peluang ekonomi. 

Dalam konteks SDGs, pembahasan ini relevan terutama dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena akses terhadap layanan keuangan dan kemampuan mengelola keuangan dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Topik ini juga dapat dikaitkan dengan SDG 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur, karena fintech merupakan salah satu bentuk pemanfaatan teknologi dalam sektor keuangan. 

Dengan demikian, perkembangan teknologi keuangan tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak orang menggunakan aplikasi digital. Hal yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar membantu masyarakat mengelola keuangan dan meningkatkan kesejahteraan. Saatnya Menjadi Pengguna Keuangan yang Cerdas 

Perkembangan fintech merupakan peluang besar bagi generasi muda. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan pengetahuan dan perilaku keuangan yang baik. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa literasi keuangan dapat mendorong penggunaan fintech, sementara fintech dapat membantu meningkatkan inklusi keuangan. Karena itu, edukasi mengenai keuangan digital perlu terus ditingkatkan, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda. 

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Manfaat terbesar akan muncul ketika teknologi digunakan oleh orang yang memiliki pengetahuan dan mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak. Dengan menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi tetapi juga melek keuangan, mahasiswa dapat ikut berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang lebih mandiri secara ekonomi dan mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan.(IP)

DAFTAR PUSTAKA 

Katias, Puspandam. “Mengoptimalkan Desain Distribusi Beras untuk Mendukung Kesejahteraan Petani.” Artikel Dosen, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, 8 April 2024. 

Khusnah, Hidayatul. (2020). “Smart Technologies and Financial Performance: The Mediating Effect of Corporate Sustainability.” Kresna Social Science and Humanities Research, 1, hlm. 1–

13. 

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2025). Analisis Kinerja Perdagangan Beras 2025. Data mengenai pola distribusi dan margin perdagangan beras nasional.