SURABAYA – Tim dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di RW IV Kelurahan Wonokromo, Surabaya, pada Juli hingga Agustus 2026. Kegiatan tersebut berfokus pada peningkatan pemahaman kader dan ibu pascanifas mengenai dispareunia atau nyeri saat berhubungan seksual setelah melahirkan serta pemanfaatan aromaterapi lemon sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis untuk membantu mengurangi keluhan tersebut.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari Yunik Windarti selaku ketua tim, serta Uliyatul Laili, Rizki Amalia, dan Fauziyatun Nisa sebagai anggota. Program dirancang dengan melibatkan kader dan ibu pascanifas agar edukasi mengenai kesehatan seksual setelah masa nifas tidak hanya diterima oleh ibu, tetapi juga dapat diteruskan melalui peran kader di lingkungan masyarakat.

Masa setelah persalinan merupakan periode yang membutuhkan perhatian terhadap berbagai aspek kesehatan ibu, termasuk kesehatan fisik, psikologis, dan seksual. Setelah masa nifas selesai, kebutuhan seksual menjadi salah satu bagian dari kehidupan rumah tangga. Namun, sebagian ibu dapat mengalami nyeri saat berhubungan seksual, terutama ketika kembali melakukan hubungan seksual setelah melahirkan. Kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan, kecemasan, hingga rasa takut untuk kembali melakukan hubungan seksual.

Hasil survei awal yang dilakukan tim menunjukkan bahwa masih banyak ibu pascamelahirkan yang memiliki kekhawatiran untuk melakukan hubungan seksual setelah masa nifas. Salah satu alasan yang muncul adalah adanya kekhawatiran terhadap rasa nyeri, terutama pada pengalaman hubungan seksual pertama setelah persalinan. Di sisi lain, persoalan kesehatan seksual pascanifas masih belum banyak dibicarakan secara terbuka sehingga pengetahuan ibu mengenai dispareunia dan cara menghadapinya masih perlu ditingkatkan.

“Berdasarkan hasil survei awal, kami menemukan bahwa masih ada ibu pascanifas yang merasa takut untuk kembali melakukan hubungan seksual karena khawatir mengalami nyeri. Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai kesehatan seksual setelah nifas masih perlu diperkuat. Kami juga melihat pentingnya melibatkan kader agar mereka dapat membantu memberikan informasi dan pendampingan kepada ibu di lingkungan masyarakat,” ujar Yunik Windarti, selaku ketua tim pengabdian.

Selain persoalan pengetahuan pada ibu, keterlibatan kader dalam edukasi mengenai kesehatan seksual pascanifas juga masih perlu diperkuat. RW IV Wonokromo memiliki sekitar 90 kader, meskipun tidak seluruhnya aktif dalam kegiatan RW. Peran kader dalam peningkatan kesehatan masyarakat telah berjalan dalam berbagai kegiatan, tetapi pemanfaatan pendekatan terapi komplementer, termasuk aromaterapi lemon, masih belum menjadi bagian dari edukasi yang diberikan kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, tim dosen FKK UNUSA memberikan edukasi mengenai kesehatan ibu pascanifas, kesehatan seksual setelah masa nifas, dyspareunia, serta pendekatan nonfarmakologis yang dapat diperkenalkan kepada ibu. Edukasi diberikan kepada kader dan ibu pascanifas dengan menggunakan metode penyampaian informasi yang disertai demonstrasi agar peserta tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memperoleh keterampilan dalam pemanfaatan aromaterapi lemon.

Demonstrasi menjadi bagian penting dalam kegiatan karena kader diharapkan tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga mampu menjadi edukator bagi ibu pascanifas di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan adanya pembekalan tersebut, kader dapat membantu menyampaikan informasi mengenai keluhan nyeri seksual pascanifas sekaligus memberikan pendampingan awal sesuai dengan kapasitasnya.

Program ini juga merupakan bentuk hilirisasi hasil penelitian tim pada tahun 2025 mengenai pengaruh aromaterapi lemon dan umur terhadap dyspareunia pada ibu pascanifas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok yang tidak diberikan aromaterapi lemon, sebanyak 28 persen responden mengalami dyspareunia sedang dan 16 persen mengalami dyspareunia berat. Sementara itu, pada kelompok yang diberikan aromaterapi lemon, sebagian besar responden atau 68 persen mengalami dyspareunia ringan.

Hasil penelitian tersebut kemudian diterapkan dalam kegiatan pengabdian melalui edukasi dan demonstrasi kepada masyarakat. Pendekatan ini menjadi upaya untuk membawa hasil penelitian dari lingkungan akademik agar dapat dipahami dan dimanfaatkan dalam konteks edukasi kesehatan masyarakat, khususnya dalam mendukung kesehatan ibu setelah persalinan.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan survei lapangan dan koordinasi dengan pihak RW IV Wonokromo untuk mengetahui kondisi masyarakat serta kebutuhan edukasi. Selanjutnya, kader dan ibu pascanifas mengikuti kegiatan edukasi dan demonstrasi pemanfaatan lemon sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis yang diperkenalkan dalam program.

Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan kuesioner melalui pre-test dan post-test untuk melihat perubahan pengetahuan peserta setelah mendapatkan edukasi. Selain itu, evaluasi juga diarahkan untuk melihat perubahan keterlibatan kader dalam memberikan pendampingan dan edukasi kepada ibu pascanifas.

Keberlanjutan program diarahkan melalui penguatan peran kader sebagai edukator kesehatan di masyarakat. Kader yang telah mendapatkan edukasi dan demonstrasi diharapkan dapat membantu ibu pascanifas memperoleh informasi yang lebih tepat mengenai kesehatan seksual setelah persalinan. Dalam pelaksanaannya, kader juga diharapkan memahami batas perannya dan dapat mendorong ibu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami keluhan yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Kegiatan ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 3 – Good Health and Well-being melalui upaya peningkatan pengetahuan dan kesejahteraan kesehatan ibu, termasuk perhatian terhadap aspek kesehatan seksual dan psikologis setelah persalinan. 

Melalui pemberdayaan kader di RW IV Wonokromo, FKK UNUSA berupaya memperkuat literasi kesehatan seksual pascanifas sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memberikan dukungan kepada ibu setelah melahirkan. Dengan edukasi yang berkelanjutan, diharapkan ibu pascanifas tidak lagi mengabaikan keluhan nyeri maupun kecemasan terkait hubungan seksual dan dapat memperoleh informasi serta pendampingan kesehatan yang tepat. (ZN)