DI era teknologi digital, sebuah universitas unggul tidak hanya diukur dari prestasi mahasiswanya. Kualitas sebuah institusi pendidikan bermutu adalah cerminan dari seluruh ekosistem di dalamnya, termasuk para tenaga kependidikan (tendik) dan dosen yang menjadi penggeraknya. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mengambil langkah untuk mencetak lulusan yang siap menghadapi masa depan, mereka yang mendidik harus terlebih dahulu dipersiapkan dengan kompetensi yang relevan.
Komitmen ini dibuktikan secara nyata saat UNUSA terpilih menjadi tuan rumah (host) untuk salah satu program dari Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Jawa Timur. Bekerja sama langsung dengan pihak industri, yaitu Maxy Academy, sebuah inovasi pelatihan AI transformatif di kampus UNUSA pada 9 Oktober 2025. Acara ini membawa topik yang sangat menarik dan relevan dengan kebutuhan zaman: “Prompt Mastery & Flows Logic: Bangun Alur AI Tanpa Coding”. Perkembangan teknologi yang semakin maju telah menghadirkan AI sebagai solusi yang dapat mempermudah pekerjaan siapa saja, asalkan mereka tahu cara “berbicara” dengannya. Inilah inti dari Prompt Mastery (keahlian merumuskan perintah) dan Flows Logic (membangun alur kerja otomatis).
Pelatihan ini tidak mengajarkan peserta cara membuat kode program, melainkan cara memanfaatkan platform no-code untuk merangkai logika AI, mengotomatisasi tugas-tugas repetitif, dan menganalisis data dengan lebih cepat. Antusiasme terhadap acara ini terlihat jelas dari komposisi peserta. Dari total 34 peserta yang hadir, UNUSA menunjukkan komitmen penuh dengan mengirimkan delegasi terbesar, mencakup sepertiga dari total peserta.
Namun, 24 peserta lainnya datang dari berbagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang tersebar di seluruh penjuru Jawa Timur. Mulai dari Universitas Hang Tuah dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, hingga UNISDA Lamongan, Universitas Islam Jember, dan Universitas PGRI Banyuwangi. Kehadiran mereka mengubah acara ini dari sekadar pelatihan internal menjadi sebuah forum kolaborasi regional dan berbagi pengetahuan.
Acara ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, sebagai jembatan untuk memahami kebutuhan riil industri akan lulusan akademisi. Dengan menghadirkan Maxy Academy sebagai perwakilan industri, para dosen dan pimpinan prodi mendapatkan masukan langsung tentang kompetensi AI apa yang sebenarnya dicari oleh perusahaan dari lulusan sarjana.
Kedua, acara ini menjadi sarana untuk menjalin koneksi antar PTS di Jawa Timur. UNUSA, sebagai tuan rumah, memfasilitasi sebuah jaringan baru untuk berbagi praktik terbaik dalam implementasi teknologi di kampus. Ketiga, ini adalah ajang untuk memperkenalkan UNUSA sebagai kampus yang inovatif sekaligus menunjukkan dukungan penuh terhadap program kerja APTISI Jatim.
Puncak dari acara ini bukanlah sesi pelatihan itu sendiri, melainkan penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara setiap kampus yang hadir dengan Maxy Academy. MOU ini membuka gerbang untuk kerja sama lebih lanjut, seperti program magang, matching fund, kuliah tamu, hingga penyesuaian kurikulum agar selaras dengan tuntutan industri AI. Kepala Program Studi Sistem Informasi UNUSA, Ibu Ima Kurniastuti, S. T., M. T., yang turut menjadi peserta, menyampaikan sebuah harapan. “Harapannya akan ada kegiatan lanjutan yang bisa mengundang Maxy Academy untuk melakukan pelatihan atau kuliah pakar di UNUSA,” ujarnya.
Dengan menjadi tuan rumah dan inisiator kolaborasi ini, UNUSA telah memposisikan sebagai pemimpin dalam adaptasi teknologi pendidikan. Mereka telah membuktikan bahwa investasi terbaik untuk masa depan mahasiswa adalah dengan berinvestasi pada para pendidiknya melalui pembangunan kapasitas. Pelatihan AI no-code ini adalah langkah awal untuk memastikan bahwa ketika lulusan UNUSA dan PTS Jawa Timur melangkah ke dunia kerja, mereka telah membawa penguasaan Artificial Intelligence yang baik.(***)