TUBERKULOSIS (TB) paru masih menjadi salah satu tantangan besar kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebar ke organ lain seperti tulang, kelenjar getah bening, dan sistem saraf pusat. Penularannya pun sangat mudah, cukup melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau bahkan tertawa.
Dampak TB paru tidak hanya pada kondisi fisik, tetapi juga mempengaruhi aspek mental dan sosial penderitanya. Jika tidak diobati dengan benar dan teratur, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti batuk darah, kekurangan nutrisi, hingga resistensi obat yang dikenal dengan Multi Drug Resistance (MDR) TB. Kondisi ini membuat pengobatan menjadi lebih lama, lebih mahal, dan jauh lebih sulit.
Salah satu kendala utama dalam penanganan TB adalah ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat anti-tuberkulosis (OAT) secara rutin sesuai jadwal. Padahal, keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada kedisiplinan pasien. Ketika pasien berhenti minum obat di tengah jalan, risiko kekambuhan dan resistensi obat akan meningkat.
Data Dinas Kesehatan Jawa Timur (2016) menunjukkan bahwa provinsi ini menempati urutan kedua di Indonesia dalam penemuan kasus TB paru dengan hasil BTA positif. Meskipun angka kesembuhan telah mencapai lebih dari 90%, kasus pengulangan pengobatan masih ditemukan, seperti di wilayah kerja Puskesmas Tanah Kali Kedinding, Surabaya, di mana 7,4% pasien mengalami pengobatan ulang.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti Nur Hasina, Arum Rahmawati, Imamatul Faizah, Ratna Yunita Sari, dan Riska Rohmawati menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan pasien dengan kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis.
Menurut teori perilaku kesehatan Lawrence Green (Nursalam, 2015), pengetahuan termasuk dalam faktor predisposisi yang mempengaruhi perilaku seseorang. Pasien yang memiliki pemahaman baik tentang penyakit dan manfaat pengobatan cenderung lebih disiplin dalam menjalankan terapi. Sebaliknya, kurangnya informasi dapat menyebabkan pasien abai terhadap pentingnya minum obat secara teratur.
Penelitian Aries Wahyuningsih dan Fidiana Kurniawati (2017) juga mendukung hal tersebut. Mereka menemukan bahwa pengetahuan yang baik tentang TB dapat meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Oleh karena itu, edukasi dan komunikasi efektif antara tenaga kesehatan dan pasien menjadi kunci keberhasilan terapi.
Perawat dan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman pasien. Melalui penyuluhan kesehatan, promosi, dan pendampingan selama pengobatan, pasien dapat termotivasi untuk menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Dukungan keluarga dan lingkungan sosial juga berpengaruh besar dalam membentuk perilaku sehat.
Edukasi yang berkelanjutan bukan hanya membantu pasien memahami pentingnya pengobatan, tetapi juga mencegah penularan di masyarakat. Dengan pengetahuan yang memadai, diharapkan angka kepatuhan meningkat dan resistensi obat dapat ditekan.
Upaya meningkatkan kepatuhan pasien TB sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDG) ke-3: Good Health and Well-Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), yang menekankan pentingnya pengendalian penyakit menular dan peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat.
Dengan pengetahuan yang baik, dukungan tenaga kesehatan, serta kepatuhan dalam minum obat, Indonesia dapat melangkah lebih pasti menuju cita-cita besar: Indonesia bebas tuberkulosis di tahun 2030. (***)