PANDEMI COVID-19 tidak hanya menguji daya tahan tubuh masyarakat, tetapi juga menekan kesehatan mental para pendidik. Dosen yang setiap hari harus memastikan proses belajar tetap berjalan ternyata memikul beban yang jauh lebih berat dari yang terlihat. Di balik layar komputer, osen berusaha menjaga kesejahteraan psikologis sambil memastikan proses belajar tetap berjalan. Mereka berjuang menyesuaikan diri dengan sistem daring, menyiapkan materi, menguasai teknologi baru, sekaligus berusaha menjaga hubungan dengan mahasiswa yang kian terasa jauh. 

Mengangkat penelitian yang dilakukan tim dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya berkolaborasi dengan sejumlah universitas di Indonesia dan luar negeri hadir untuk mengungkap tantangan kesehatan mental para dosen selama pandemi sekaligus menemukan faktor yang mampu menjadi penopang kesejahteraan mereka.

Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa beban kerja dosen meningkat tajam sejak kuliah tatap muka beralih ke perkuliahan daring. Bukan hanya soal teknis, tekanan psikologis akibat kesepian, kehilangan batas antara pekerjaan dan keluarga, hingga rasa khawatir berlebihan terhadap kesehatan menambah beratnya situasi. Kajian yang melibatkan 92 dosen dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan mampu memberikan rekomendasi yang bermanfaat bagi kesejahteraan dosen serta kualitas pendidikan di masa depan.

Proses penelitian dilakukan secara daring dengan menyebarkan kuesioner mengenai kesehatan mental, aktivitas fisik, dan spiritualitas. Jawaban para responden kemudian dianalisis untuk menemukan faktor yang paling menentukan dalam menjaga kesehatan mental di tengah pandemi.

Dalam pelaksanaannya ditemukan beberapa hambatan. Sebagian besar dosen tidak memiliki rutinitas olahraga teratur. Sebagian lainnya justru melakukan aktivitas fisik berlebihan yang malah memunculkan rasa lelah dan penurunan suasana hati. Selain itu, beban kerja yang menumpuk dan tanggung jawab keluarga membuat mereka sulit menjaga keseimbangan. Solusi yang ditawarkan adalah perlunya pengaturan beban kerja yang lebih manusiawi, penyediaan layanan konseling, dan penguatan sisi spiritual sebagai penopang ketenangan batin.

Hal yang menarik dari penelitian ini adalah temuan bahwa spiritualitas menjadi kekuatan penting dalam menghadapi tekanan. Doa, ibadah, dan pencarian makna hidup terbukti mampu memberi stabilitas mental pada para dosen. Temuan ini menjadi poin plus yang jarang disorot dalam penelitian lain yang biasanya lebih fokus pada faktor teknis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi mental dosen lebih baik ketika mereka memiliki spiritualitas yang tinggi, jenjang pendidikan yang lebih lanjut, serta status sertifikasi profesi. Tiga faktor ini terbukti menjadi kunci dalam menjaga kesejahteraan mental di masa sulit.

Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa kesehatan mental dosen bukan sekadar tanggung jawab pribadi, melainkan perlu dukungan kebijakan dan sistem yang lebih kuat. Pemerintah, kampus, dan komunitas akademik perlu hadir dengan regulasi beban kerja yang adil, layanan dukungan psikologis, serta program yang menguatkan nilai spiritual.

Pada akhirnya, kita diingatkan bahwa pendidikan berkualitas hanya bisa lahir dari dosen yang sehat, baik fisik maupun mental. Memberikan ruang bagi mereka untuk beristirahat, beribadah, dan memperoleh penghargaan yang layak adalah bentuk investasi nyata untuk masa depan bangsa. (***)