PERMASALAHAN gizi di Indonesia kini menghadapi tantangan ganda yang dikenal sebagai Double Burden of Malnutrition—di satu sisi masih terdapat kekurangan gizi, sementara di sisi lain meningkatnya angka kejadian overweight dan obesitas juga menjadi perhatian serius. Kondisi ini banyak terjadi pada anak-anak dan remaja, kelompok usia yang sedang berada dalam masa pertumbuhan dan pembentukan kebiasaan hidup jangka panjang.
Perubahan gaya hidup di era modern menjadikan anak-anak lebih sering mengkonsumsi makanan cepat saji yang tinggi kalori, lemak, gula, dan garam, serta memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat seperti makan tergesa-gesa atau sering ngemil tanpa memperhatikan nilai gizi. Aktivitas fisik pun semakin berkurang karena anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai daripada bermain atau berolahraga.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan peningkatan prevalensi overweight dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 22,3% pada tahun 2020. Secara nasional, kasus overweight pada anak usia 5–12 tahun mencapai 18,8%, dengan 10,8% tergolong overweight dan 8,8% obesitas. Di Jawa Timur, prevalensinya bahkan lebih tinggi, mencapai 22,37%.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahmadaniar Aditya Putri, Siti Nur Hasina, Riska Rohmawati, Imamatul Faizah, dan Ratna Yunita Sari dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya menunjukkan bahwa pola makan dan aktivitas fisik memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian overweight pada anak dan remaja. Pola makan yang tidak seimbang dan aktivitas fisik yang rendah menyebabkan kelebihan energi yang disimpan tubuh sebagai lemak.
Dampaknya tidak hanya pada penampilan fisik, tetapi juga pada kesehatan jangka panjang. Anak dan remaja yang mengalami overweight berisiko lebih tinggi mengalami sindrom metabolik, seperti diabetes melitus, hipertensi, dislipidemia, dan penyakit jantung di masa dewasa.
Upaya untuk mengatasi masalah ini perlu dimulai dari peningkatan pengetahuan gizi di kalangan anak dan remaja. Edukasi mengenai pemilihan makanan sehat, pentingnya sarapan, serta pembiasaan aktivitas fisik harian harus dilakukan secara konsisten baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Dengan pemahaman gizi yang baik, anak dan remaja diharapkan mampu memilih makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh mereka dan memiliki kebiasaan hidup yang lebih aktif.
Penelitian ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-3, yaitu Good Health and Well-being, yang menekankan pentingnya memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Melalui pengetahuan, kebiasaan, dan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat, generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih kuat, sehat, dan produktif. (***)