SEBUAH program edukasi tentang literasi label pangan dan informasi gizi yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Al Uswah Surabaya berhasil meningkatkan pengetahuan para siswa mengenai pentingnya membaca dan memahami label pada makanan kemasan. Kegiatan ini bertujuan untuk mencegah munculnya masalah kesehatan, terutama obesitas, di kalangan remaja.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, sekitar 16,0% remaja usia 12-15 tahun dan 13,5% usia 16-18 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Rendahnya literasi gizi mengakibatkan sebagian besar remaja jarang memperhatikan label bahan pangan yang mereka konsumsi sehari-hari, sehingga berisiko meningkatkan kejadian obesitas dan penyakit terkait lainnya.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama 60 menit ini, sebanyak 42 siswa dari kelas 10, 11, dan 12 mengikuti pelatihan yang dikemas secara interaktif dan menarik. Materi yang disampaikan mencakup gambaran umum label pangan, makna simbol-simbol pada kemasan, serta cara membaca informasi nilai gizi yang tertera. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan praktik langsung membaca label makanan agar peserta lebih memahami langkah-langkahnya.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan peserta. Hal ini dibuktikan dari hasil pre-test dan post-test yang menunjukkan adanya perubahan yang berarti dengan nilai p=0,004 berdasarkan uji statistik Wilcoxon. Sebelum kegiatan, hanya sekitar 6,7% dari masyarakat Indonesia yang benar-benar memperhatikan label gizi, tetapi setelah edukasi, tingkat pemahaman siswa meningkat.
Dosen sekaligus tim pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa edukasi ini sangat penting karena remaja membutuhkan pendekatan yang menarik, interaktif, dan berbasis informasi aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. “Penting bagi mereka untuk mampu membaca dan memahami label gizi sehingga dapat memilih makanan yang sesuai kebutuhan dan menjaga kesehatan jangka panjang,” ujar Dr. Ananda, salah satu pengajar.
Selain itu, para siswa juga diajak memahami pentingnya membaca informasi seperti ukuran porsi, kandungan kalori, serta persentase nilai harian berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Dengan kemampuan ini, diharapkan mereka mampu membuat keputusan yang lebih baik dalam pola konsumsi makanan mereka.
Kegiatan ini didukung oleh langkah pemerintah Indonesia yang mewajibkan pencantuman informasi gizi pada kemasan makanan. Meskipun sudah ada aturan tersebut, hal ini perlu didukung dengan peningkatan pemahaman masyarakat, khususnya remaja, agar manfaatnya benar-benar dirasakan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring keberhasilan program ini, pihak sekolah dan tim pelaksana berencana mengadakan kegiatan serupa secara rutin. Mereka juga menyarankan melibatkan simulasi, studi kasus, serta evaluasi mendalam untuk memastikan perubahan perilaku dan tingkat literasi gizi di kalangan remaja terus meningkat.(***)