KESEHATAN reproduksi perempuan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Angka kejadian penyakit pada organ reproduksi, terutama kanker serviks dan infeksi saluran reproduksi, menunjukkan bahwa kesadaran perempuan terhadap pentingnya deteksi dini masih belum merata. Pemeriksaan rutin seperti Pap smear belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, khususnya bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan akses kesehatan terbatas atau memiliki kendala ekonomi. Padahal, deteksi dini merupakan kunci utama dalam menekan angka kematian akibat kanker serviks.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pada tahun 2022 terdapat sekitar 662.300 kasus baru kanker serviks di dunia dengan 349.000 kematian. Sebagian besar kasus terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia, di mana layanan kesehatan dan program deteksi dini belum optimal. Data GLOBOCAN 2022 juga menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi kedua tertinggi untuk kasus kanker serviks setelah kanker payudara, dengan 36.633 kasus baru dan lebih dari 20 ribu kematian dalam satu tahun. Lebih dari setengah kasus ditemukan pada stadium lanjut, yang menjadikan proses pengobatan semakin sulit dan menurunkan peluang kesembuhan secara signifikan.

Tingginya angka kejadian tersebut menegaskan pentingnya edukasi masyarakat melalui pendekatan yang sederhana, terjangkau, dan memberdayakan. Salah satu bentuk inovasi yang kini dikembangkan adalah Pemeriksaan Vagina Sendiri (SAVARI), yaitu metode alternatif yang mendorong perempuan untuk lebih mengenali tubuhnya dan peka terhadap perubahan pada organ kewanitaan. SAVARI menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran terhadap deteksi dini, serta mengurangi ketergantungan penuh pada pelayanan kesehatan formal yang belum sepenuhnya merata.

Untuk memastikan keberhasilan program ini, peran kader kesehatan menjadi sangat penting. Melalui pelatihan yang sistematis, kader dapat menjadi ujung tombak dalam menyampaikan informasi kesehatan reproduksi secara akurat dan empatik. Program LASKAR GERTAK KITA hadir sebagai bentuk pemberdayaan kader kesehatan agar mampu menjalankan edukasi pemeriksaan vagina sendiri dengan baik. Kader tidak hanya dibekali dengan pengetahuan medis, tetapi juga keterampilan komunikasi dan pendekatan sosial agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat.

Peningkatan kompetensi kader melalui kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang sadar akan pentingnya pemeriksaan dini dan kesehatan reproduksi perempuan. Program ini diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi ke berbagai kelompok masyarakat, terutama perempuan di daerah dengan akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan berdaya. Melalui pendekatan berbasis edukasi dan pemberdayaan kader, diharapkan dapat tercipta sinergi antara tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksi perempuan.

Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-3, yaitu Good Health and Well-being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), serta poin ke-5, Gender Equality (Kesetaraan Gender), yang menekankan pentingnya akses kesehatan reproduksi yang merata dan peningkatan kesadaran perempuan terhadap kesehatannya sendiri. (***)