Bahasa Inggris seringkali dianggap sulit oleh sebagian siswa, terutama karena banyaknya kosakata dan aturan tata bahasa yang harus dikuasai. Padahal, memahami struktur kata dalam bahasa Inggris bisa menjadi kunci penting untuk menguasai membaca, menulis, dan berbicara dengan lebih baik. Kemampuan ini termasuk dalam bagian penting dari literasi bahasa Inggris, yang menjadi dasar pengembangan literasi keterampilan siswa. Sayangnya, metode pengajaran yang terlalu kaku sering membuat siswa kesulitan dan kehilangan minat.
Melihat situasi tersebut, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), mengambil solusi dengan menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di SMP Al Ishlah Surabaya. Memperkenalkan cara baru dalam mempelajari bahasa Inggris melalui pemahaman tentang bentuk dasar (morfem derivatif) dan perubahan kata (morfem infleksional).
Kegiatan ini diikuti oleh 30 siswa kelas tujuh yang mewakili dari dua tingkat kemahiran bahasa Inggris, yakni pemula dan menengah. Tidak sendiri, dosen FKIP Unusa juga melibatkan 2 guru bahasa Inggris yang berpengalaman sebagai fasilitator dalam pelaksanaan program pembelajaran.
Kegiatan ini diawali dengan pre-test dan diakhiri post-test serta evaluasi yang dikemas dengan diskusi umpan balik. Menariknya, gelaran ini dilakukan dalam 2 sesi yang melibatkan aktivitas interaktif dan pembelajaran kolaboratif seperti permainan, diskusi kelompok, dan pengajaran teman sebaya.
Pada proses belajar, siswa dituntun untuk memahami konsep morfem. Seperti mempelajari perbedaan antara morfem bebas dan morfem terikat. Kemudian, siswa diberikan tugas untuk menghasilkan kata-kata tambahan dengan menggunakan morfem derivasional yang umum digunakan. Misalnya mengubah “happy” menjadi “happiness”. Saat pertemuan kedua, guru fasilitator dan tim dari FKIP Unusa menggunakan pembelajaran kooperatif dengan menerapkan sesi diskusi kelompok dan pengajaran teman sebaya menggunakan bahasa Inggris sebagai penerapan konsep morfem.
Dan hasilnya? terdapat peningkatan yang tinggi dalam pemahaman siswa tentang morfologi hingga meningkatnya rasa percaya diri siswa dalam berbicara dan menulis teks bahasa Inggris. Hal ini, ditinjau dari adanya peningkatan skor pasca tes yang menunjukkan bahwa siswa mampu menguasai aturan dan menerapkan kata-kata yang familiar maupun yang tidak familiar.
Dari penelitian yang dilakukan di SMP Al Islah Surabaya, kita belajar bahwa mengajarkan morfem derivasional dan infleksional bukan sekadar materi akademis, tetapi kunci untuk memperkuat kemampuan membaca, menulis, dan memahami bahasa Inggris secara lebih menyeluruh. Dengan metode yang menyenangkan seperti diskusi, permainan, dan kerja kelompok, siswa lebih mudah memahami dan lebih percaya diri dalam menulis dan berbicara atau membaca teks bahasa Inggris.
Bagi sekolah lain yang ingin meningkatkan kecakapan berbahasa Inggris siswa, pendekatan ini bisa jadi inspirasi. Karena dengan membekali anak dengan kosakata dan struktur bahasa yang baik, berarti kita juga sedang menyiapkan mereka untuk berpikir lebih kritis dan berani berkomunikasi dengan percaya diri di masa depan.(***)