KEBIASAAN masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi tanaman herbal telah menjadi warisan turun-temurun sejak sebelum hadirnya pelayanan kesehatan modern. Berbagai jenis tanaman obat seperti jahe, kunyit, kencur, dan temulawak telah lama dipercaya memiliki khasiat dalam menjaga kesehatan tubuh serta mencegah penyakit. Kini, di tengah maraknya gaya hidup instan, pelestarian tanaman herbal kembali digalakkan agar masyarakat tidak melupakan nilai kesehatan alami dari bahan-bahan tradisional tersebut.

Melihat potensi besar ini, para dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) — Nety Mawarda Hatmanti, Siti Nurjanah, Ratna Yunita Sari, Umdatus Soleha, dan Chilyatiz Zahro — melaksanakan program pemberdayaan masyarakat melalui konservasi tanaman herbal di Desa Keleyan, Kecamatan Socah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi minuman sehat sekaligus melestarikan kearifan lokal dalam pengolahan tanaman herbal.

Berdasarkan hasil analisis awal, diketahui bahwa pengetahuan ibu-ibu PKK di Desa Keleyan tentang manfaat dan pengolahan tanaman herbal masih rendah. Sebagian besar hanya menggunakan jahe sebagai penghangat tubuh, sementara tanaman lain seperti kunyit dan temulawak hanya digunakan sebagai bumbu masakan. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, tim dosen UNUSA berupaya meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat melalui serangkaian kegiatan edukasi, demonstrasi, serta pelatihan.

Kegiatan dimulai dengan edukasi mengenai manfaat tanaman herbal bagi kesehatan dan cara penanaman yang sesuai dengan kondisi tanah setempat. Tim UNUSA juga bekerja sama dengan Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Socah untuk memberikan pendampingan teknis. Setelah itu, dilakukan pelatihan pengolahan hasil tanaman herbal menjadi serbuk minuman sehat yang tahan hingga enam bulan setelah kemasan dibuka. Dari kegiatan ini, dihasilkan empat varian jamu serbuk, yaitu jahe merah, kunyit, kencur, dan temulawak, yang dapat dikonsumsi sebagai minuman sehat maupun dijual sebagai produk unggulan desa.

Sebanyak 95% kader PKK mengikuti seluruh tahapan kegiatan dari awal hingga proses akhir pengemasan. Program ini tidak hanya meningkatkan wawasan dan keterampilan ibu-ibu PKK, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui penjualan produk herbal. Selain itu, penanaman dan pengolahan tanaman herbal menjadi bagian dari kegiatan rutin PKK, yang turut memperkuat semangat konservasi tanaman lokal dan ketahanan obat keluarga.

Upaya ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being) yang menekankan pentingnya pola hidup sehat melalui pemanfaatan bahan alami, serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui inovasi lokal. Melalui program ini, dosen UNUSA tidak hanya menanamkan nilai kesehatan alami, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan. (***)