TBC adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang dapat menular melalui percikan dahak. Penyakit ini dapat menimbulkan beberapa gejala seperti batuk lebih dari 3 minggu disertai dahak maupun tidak.

WHO (World Health Organization) mencatat bahwa penyakit TBC menyebabkan 1,5 juta orang meninggal pada tahun 2020. TBC merupakan penyakit mematikan kedua setelah COVID-19. Indonesia menjadi negara ketiga dengan penderita TBC terbanyak di dunia setelah China dengan jumlah penderita sebanyak 845.000 pada tahun 2019.

Upaya penanggulangan kasus TBC di Indonesia telah banyak dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia dengan beberapa cara seperti penyuluhan, pemberian vaksin BCG, program skrinning TB paru, dan pengobatan TB paru. Tetapi, upaya penanggulangan tersebut belum sepenuhnya mampu menanggulangi kasus TB di Indonesia.

Di Indonesia, banyak dari penderita TBC yang tidak mau mengkonsumsi OAT (Obat Anti Tuberkulosis) secara berkala. Hal ini dikarenakan banyak dari mereka yang percaya bahwa jika mengkonsumsi obat dalam jumlah banyak dan dalam rentang waktu yang lama dapat menimbulkan beberapa efek samping. Efek samping yang mereka percayai yaitu jika mengkonsumsi OAT berlebih maka akan menyebabkan rusaknya ginjal. Beberapa dari mereka juga mengkhawatirkan OAT akan menyebabkan urine berwarna merah yang dianggap sebagai suatu penyakit.

Untuk menjawab stigma negatif mengenai efek samping dari OAT, maka Ratna Sofaria Munir, dr., M.S., AFK dan tim melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui gambaran efek samping dari OAT. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Wonokromo Surabaya pada tahun 2024.

Setelah dilakukan pengumpulan data melalui wawancara dengan pasien TB paru didapatkan hasil bahwa efek samping dari konsumsi OAT adalah urine berwarna merah (33%), mual dan tidak nafsu makan (17%), nyeri tulang dan sendi (15%), gatal-gatal (2%), gangguan penglihatan (2%), dan demam menggigil (1%).

Menurut wawancara yang dilakukan dengan penderita TB, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa urinenya berwarna merah. Adapun penyebab urine merah pada penderita TB setelah mengkonsumsi OAT adalah adanya proses metabolisme obat rifampisin. Perubahan warna urine ini tidak perlu dikhawatirkan karena bukan sesuatu hal yang membahayakan dan konsumsi OAT dapat dilanjutkan selama 6 bulan. Meskipun, urine berubah menjadi merah, tetapi kepekatan warna urine tetap dipengaruhi oleh banyaknya cairan yang masuk ke tubuh. Perubahan kepekatan warna ini tidak berkaitan dengan perkembangan pengobatan TBC.

Selain itu, OAT yang sering digunakan untuk mengobati TBC adalah isoniazid dan pyrazinamide. sedangkan, pyrazinamide memiliki efek samping nyeri otot dan sendi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa efek urine berwarna merah setelah mengkonsumsi OAT bukan sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan karena hal ini memang efek samping dari OAT dan bukan merupakan gejala adanya suatu penyakit tertentu. (***)