PONDOK pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki peran penting dalam membentuk perilaku hidup sehat di kalangan santri. Namun, lingkungan pesantren yang padat dan aktivitas bersama yang intens seringkali menjadi faktor risiko penularan berbagai penyakit, salah satunya skabies. Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabies dan mudah menyebar melalui kontak fisik langsung. Karena itu, lingkungan berasrama seperti pesantren menjadi tempat yang rentan terhadap penyebaran penyakit ini.
Fenomena serupa ditemukan di Pondok Pesantren Assalafi Al-Fitrah Surabaya, dimana masih terdapat santri yang mengalami gejala skabies. Berdasarkan wawancara dengan beberapa santri, diketahui bahwa perilaku kebersihan diri masih kurang optimal—misalnya saling meminjam handuk dan sabun mandi, serta kurang memperhatikan kebersihan diri akibat padatnya jadwal kegiatan. Kondisi tersebut memperkuat data global dari WHO yang menyebutkan bahwa lebih dari 200 juta orang di dunia menderita scabies setiap tahunnya, dan Indonesia termasuk negara dengan prevalensi tinggi, yakni antara 4,60% hingga 12,95%.
Menanggapi kondisi ini, dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, yaitu Rusdianingseh, Nety Mawarda Hatmanti, Siti Damawiyah, Ratna Yunita Sari, M. Shodiq, dan Siti Maimunah, melakukan kegiatan pengabdian masyarakat melalui program edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada para santri di pesantren tersebut. Edukasi dilakukan dengan metode ceramah interaktif menggunakan media slide, serta pemberian kuesioner sebelum dan sesudah kegiatan untuk menilai peningkatan pengetahuan santri tentang pentingnya PHBS dan pencegahan skabies.
Melalui kegiatan ini, santri diharapkan memahami bahwa perilaku hidup bersih dan sehat bukan hanya sekedar kebiasaan, tetapi merupakan bagian dari upaya menjaga diri dan lingkungan dari risiko penyakit menular. Penerapan PHBS di pesantren juga diharapkan dapat menjadi langkah awal menciptakan lingkungan pesantren yang sehat, nyaman, dan produktif bagi seluruh santri.
Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, yang menekankan pentingnya memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia. Melalui edukasi ini, para dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya berkontribusi nyata dalam membangun kesadaran kesehatan di lingkungan pendidikan berbasis pesantren—sebuah langkah kecil dengan dampak besar bagi kesehatan masyarakat. (***)