DI tengah gempuran teknologi dan media sosial, generasi muda saat ini terutama kaum milenial dan Gen Z menghadapi sebuah persimpangan krusial. Di satu sisi, ada tuntutan gaya hidup yang serba instan: kopi kekinian, gadget terbaru, dan tiket konser. Di sisi lain, ada kesadaran yang perlahan tumbuh mengenai pentingnya mempersiapkan masa depan finansial.
Data dari jurnal pengabdian masyarakat oleh peneliti Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menyoroti fenomena ini. Saat ini, generasi milenial lebih cenderung memilih memenuhi gaya hidup konsumtif daripada melakukan “smart investasi” dengan investasi saham. Padahal, investasi adalah salah satu kunci untuk meningkatkan kesejahteraan.
Investasi adalah bentuk penanaman modal, baik oleh individu maupun badan hukum, dengan tujuan utama untuk memperoleh keuntungan di masa depan. Ini merupakan tindakan “menunda konsumsi sekarang” agar bisa digunakan untuk produksi yang lebih efisien di waktu mendatang. Ragamnya pun banyak, mulai dari yang konvensional seperti tabungan, emas, dan tanah, hingga instrumen di pasar modal seperti saham, yang merupakan bagian dari layanan keuangan.
Pemerintah, melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), sebenarnya telah gencar mengampanyekan gerakan “Yuk Nabung Saham” (YBS) untuk mengajak seluruh masyarakat berinvestasi di pasar modal. Namun, ajakan ini seringkali diabaikan. Mengapa? Salah satu faktor utama yang memengaruhi minat investasi adalah minimnya pengetahuan. Banyak yang takut, bingung, atau lebih buruk lagi, terjebak dalam investasi bodong karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup.
Berangkat dari kegelisahan inilah, sebuah tim pengabdian masyarakat dari Unusa tergerak untuk memberikan kontribusi nyata. Mereka ingin membantu generasi milenial agar dapat meningkatkan potensi pendapatan mereka di masa depan. Sasaran utamanya adalah para siswa dan siswi di Madrasah Aliyah (MA) Mambaul Ulum Jombang.
Tujuan dari kegiatan pengabdian ini sangat jelas yaitu mengedukasi masyarakat, khususnya kaum muda, agar dapat memanfaatkan uang saku mereka untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. Target jangka panjangnya adalah mempersiapkan kondisi finansial yang stabil di masa depan, mencapai tujuan keuangan, hingga mempersiapkan dana pensiun yang merupakan langkah awal untuk pengentasan kemiskinan secara mandiri. Tim pengabdi menerapkan metode yang praktis dalam mengenalkan konsep “saham” kepada para pelajar MA.
Metode pelaksanaan pengabdian ini diawali dengan kunjungan langsung ke sekolah, mereka memberikan binaan mengenai cara berinvestasi. Langkah Kedua, Edukasi “Smart Investasi” dan Anti Bodong, fokus utama adalah memberikan pemahaman tentang pentingnya smart investasi, khususnya investasi saham. Para siswa dikenalkan pada konsep dasar pasar modal, mereka juga dibekali keterampilan literasi agar tidak terjerat investasi yang tidak memiliki legalitas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di era digital, penipuan berkedok investasi sangat marak, dan pengetahuan ini adalah bekal fundamental bagi mereka.
Langkah Ketiga, Pengenalan Aplikasi dan Bukti Nyata, tim pengabdi mengenalkan salah satu aplikasi saham, yaitu IPoT. Para siswa ditunjukkan bagaimana teknologi dapat mempermudah proses investasi. Selain itu, untuk mematahkan keraguan dan membangun antusiasme, tim pengabdi juga “menyampaikan bukti berhasilnya melakukan bukti investasi saham”. Ini adalah langkah awal untuk menunjukkan bahwa investasi saham bukanlah sesuatu yang mustahil atau sekadar teori.
Hasilnya di luar dugaan. Diskusi tentang investasi ini disambut dengan sangat antusias oleh para siswa dan siswi. Bagi kebanyakan dari mereka, ini merupakan hal yang benar-benar baru. Mereka yang selama ini mungkin hanya akrab dengan menabung di bank, kini terbuka wawasannya terhadap instrumen investasi lain yang memiliki potensi keuntungan lebih besar tetapi dengan risiko yang juga terukur.
Dalam sesi tersebut, para pelajar juga diberi pemahaman praktis bahwa untuk memulai investasi saham secara legal, mereka harus terlebih dahulu memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP). Ini penting agar mereka tidak terburu-buru dan memahami syarat legal untuk menjadi seorang investor. Ketika mereka sudah memiliki minat dan memenuhi syarat, mereka dapat menerapkan ilmu yang sudah didapat. Tim pengabdi percaya bahwa investasi, jika dilakukan sesuai dengan ilmu yang didapatkan, dapat membantu seseorang melakukan manajemen keuangan dengan sangat baik.
Edukasi “smart investasi” sejak di bangku sekolah seperti ini adalah aksi nyata dalam memperbaiki pertumbuhan ekonomi. Ini adalah upaya untuk mengubah paradigma dari generasi yang hanya konsumtif menjadi generasi yang produktif. Dengan memberikan edukasi tentang investasi saham kepada usia remaja, diharapkan jumlah investor di Indonesia akan terus meningkat di masa depan. Kegiatan ini termasuk salah satu upaya membangun generasi baru yang lebih cerdas secara finansial, mandiri, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(***)