BANYAK mahasiswa di Indonesia masih kaku ketika berbicara bahasa Inggris. Rasa takut salah ucap sering membuat mereka enggan memulai percakapan. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran, dengan dukungan infrastruktur TIK yang semakin mudah diakses. Melalui kapabilitas teknologi yang terus berkembang, media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk mendorong inovasi sehingga mahasiswa lebih percaya diri berlatih berbicara.

Untuk menjawab persoalan ini, dosen dan peneliti dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya melakukan penelitian dengan melibatkan lima mahasiswa. Mereka menyoroti konten singkat yang dibuat Jane Elisabet, kreator TikTok yang dikenal dengan video edukasi berisi percakapan sederhana sehari-hari. Dengan gaya santai dan bahasa yang mudah dipahami, Jane berhasil menarik perhatian banyak pelajar yang ingin berlatih berbicara.

Hasil penelitian menunjukkan perubahan positif. Mahasiswa yang awalnya pasif mulai berani menjawab pertanyaan, menirukan pelafalan, bahkan ikut berdiskusi di kelas. Rasa cemas perlahan berkurang karena video Jane disampaikan dengan intonasi jelas, kalimat yang diulang, serta durasi singkat yang mudah diikuti.

Meskipun sempat merasa minder, mahasiswa bisa mengulang video berkali-kali sehingga lebih percaya diri mencoba. Keunggulan lain adalah konten ini praktis, langsung bisa dipakai dalam percakapan sehari-hari, serta bisa diakses gratis kapan pun dan di mana pun.

Temuan ini membuktikan bahwa media sosial bukan hanya hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana belajar yang efektif. Dengan pendekatan sederhana dan ramah, video singkat mampu menjadi jembatan yang mengubah rasa minder menjadi keberanian.

Era digital membuka peluang baru dalam pendidikan. Dari layar gawai, mahasiswa bisa menemukan motivasi untuk lebih percaya diri. Satu video berdurasi singkat ternyata cukup untuk memicu perubahan besar dalam cara mereka berani menggunakan bahasa Inggris. (***)