SEIRING dengan perkembangan zaman, kebiasaan merokok masih menjadi isu kesehatan yang sulit diatasi, terutama dengan kemunculan rokok elektrik (vape) yang kini menjadi tren di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Vape seringkali digunakan sebagai alternatif untuk berhenti merokok. Namun, penggunaannya menimbulkan masalah kesehatan baru, terutama karena kandungan zat kimia seperti nikotin yang sangat adiktif dan berpotensi membahayakan perkembangan otak remaja. Di Surabaya, penggunaan rokok elektrik oleh mahasiswa meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya kemudahan akses, varian rasa, dan anggapan bahwa vape lebih aman yang membuat vape semakin digemari oleh remaja khususnya mahasiswa.

Untuk mengetahui alasan dari para remaja khususnya mahasiswa lebih memilih vape daripada rokok konvensional, maka Dewi Masithah, dr., M.Kes dan tim melakukan sebuah penelitian dengan metode survei menggunakan kuesioner dengan responden mahasiswa yang berasal dari dua perguruan tinggi islam di Surabaya yaitu Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.  

Untuk mengetahui alasan dari pemilihan vape, kuesioner disusun untuk mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan profil geografis, kebiasaan penggunaan rokok elektrik,  frekuensi penggunaan rokok elektrik, alasan menggunakan rokok elektrik, dan persepsi terhadap dampak kesehatan rokok elektrik.

Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa pengguna rokok elektrik didominasi oleh remaja yang berusia 18 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa mahasiswa dalam usia kelompok 18 tahun mungkin lebih terbuka terhadap tren baru, seperti penggunaan rokok elektrik, dipengaruhi oleh faktor sosial dan lingkungan kampus.

Kemudian, pengguna rokok elektrik didominasi oleh laki-laki dengan persentase 79,6%. Tetapi, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwasanya  mahasiswi perempuan juga menggunakan vape (rokok elektrik).

Ternyata pengguna terbesar rokok elektrik banyak didominasi oleh mahasiswa yang berasal dari prodi non kesehatan dengan persentase (69,4%). Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa mahasiswa prodi kesehatan juga menggunakan vape meskipun mereka mempelajari mengenai kesehatan manusia.

Penelitian ini juga mengatakan bahwa meskipun responden merasakan kesenangan dan potensi penghematan dari penggunaan rokok elektrik, tetapi mereka juga memiliki keraguan mengenai dampak kesehatannya akibat dari rokok elektrik.

Jadi dapat disimpulkan profil pengguna rokok elektrik mahasiswa ide Surabaya adalah laki-laki dengan usia 18 tahun dan berasal dari prodi non kesehatan.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dari rekomendasi kebijakan kesehatan masyarakat kedepannya. (***)