SAAT INI, era di mana pengetahuan dan teknologi berkembang secara pesat, kualitas pendidikan juga bergantung dengan kualitas tenaga pendidikan yang sehat, baik secara fisik maupun secara mental. Faktor ini saling memengaruhi untuk mengukir prestasi pendidikan

Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas kinerja individu dipengaruhi oleh burnout. Biasanya gejala dari burnout yaitu sedih, depresi, mudah stress, merasa terisolasi, kelelahan fisik dan mental, merasa gagal, dan memiliki rasa khawatir yang menyebabkan waspada berlebihan, sehingga membawa dampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan kesehatan fisik.

Berdasarkan beberapa teori menyebutkan bahwa burnout dapat menyebabkan beban kerja. Teori ini menjelaskan bahwa beban kerja yang tinggi menciptakan tekanan psikologis, serta burnout dapat merugikan kinerja dan kesejahteraan mental tenaga pendidik. Hal ini akan menyebabkan terciptanya lingkungan yang kurang produktif dan merusak hubungan intrapersonal dan interpersonal

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dilakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara dengan  kesehatan mental tenaga pendidik di FK UNUSA, sehingga nantinya dapat memberikan pandangan yang lebih jelas tentang faktor-faktor yang dapat memengaruhi kesejahteraan dan kinerja para pendidik.

Penelitian ini diketuai Nur Azizah A.S, dr., Sp.KJ yang memiliki reponden sebanyak 21 responden tenaga kependidikan FK UNUSA.   

Penelitian ini menjelaskan bahwa responden dengan beban kerja sedang atau normal menunjukkan kecenderungan burnout, meskipun dalam jumlah yang sedikit. Ini menunjukkan bahwa meskipun beban kerja tidak selalu tinggi, faktor lainnya seperti stress dan dukungan sosial juga dapat mempengaruhi tingkat burnout.

Responden lainnya yang memiliki beban kerja ringan tetapi mengalami burnout menunjukkan bahwa burnout tidak hanya dipengaruhi oleh beban kerja, tetapi juga oleh faktor psikologis dan emosional.

Kemudian, respon yang mengalami burnout rendah, menunjukkan bahwa ada kemungkinan faktor-faktor protektif yang berkontribusi terhadap kesejahteraan mereka.

Secara keseluruhan, hubungan antara beban kerja dan burnout pada tenaga kependidikan di FK UNUSA menunjukkan bahwa  meskipun beban kerja adalah faktor penting. Tetapi, ia tidak berdiri sendiri. Faktor-faktor lain seperti dukungan sosial, stress emosional, dan lingkungan kerja juga menjadi peran penting dalam menentukan tingkat burnout.

Oleh karena itu, pendekatan holistik yang mempertimbangkan semua faktor ini diperlukan untuk mengelola dan mengurangi burnout di kalangan tenaga kependidikan. (***)