SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) resmi membuka rangkaian 6th BRAVE UNUSA pada 3 Agustus 2026 di Auditorium UNUSA. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum penyambutan mahasiswa asing yang mengikuti program internasional tahunan tersebut serta menghadirkan seminar internasional mengenai peran generasi muda dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). 

Seminar internasional bertajuk “Youth Leadership in Achieving SDGs: Tackling Poverty, Advancing Education, and Driving Economic Growth” menghadirkan dua narasumber, yaitu Ms. Oumama Kabli, Deputy Public Affairs Officer, U.S. Consulate General Surabaya, dan dr. Muhammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar, alumni UNUSA sekaligus penerima Erasmus Mundus Excellence Scholarship. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa internasional yang merupakan peserta BRAVE, mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan UNUSA.

Mengangkat tema kepemimpinan generasi muda dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), seminar ini berfokus membahas tiga isu utama, yaitu pengentasan kemiskinan, peningkatan pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi. Ketiga isu tersebut menjadi tantangan global yang membutuhkan keterlibatan generasi muda melalui pengetahuan, kreativitas, kolaborasi, dan aksi nyata.

Dalam sesi pemaparan, generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga mengambil peran sebagai agen perubahan. Karena kepemimpinan dapat dibangun melalui keberanian untuk belajar, mengambil kesempatan, serta memberikan kontribusi bagi lingkungan sekitar.


“Generasi muda tidak harus menunggu memiliki jabatan untuk memberikan perubahan. Kepemimpinan dapat dimulai dari keberanian untuk belajar, mengambil kesempatan, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar,” ujar Ms. Oumama Kabli.

Sementara itu, dr. Muhammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar membagikan perspektif berdasarkan pengalaman akademiknya di tingkat internasional. Perjalanannya sebagai alumni UNUSA dan penerima Erasmus Mundus Excellence Scholarship menjadi contoh bahwa kesempatan pendidikan dapat menjadi langkah untuk mengembangkan kapasitas diri sekaligus memperluas jejaring di tingkat global.


“Kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Yang terpenting adalah berani mempersiapkan diri, terus belajar, dan tidak takut mengambil langkah pertama,” ujar dr. Muhammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar.

Selain menjadi forum berbagi wawasan, seminar tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa UNUSA untuk berinteraksi dengan narasumber yang memiliki pengalaman dalam lingkungan internasional. Kehadiran mahasiswa asing juga memperkuat suasana pertukaran pengetahuan dan budaya dalam rangkaian BRAVE. Interaksi antara mahasiswa internasional dan civitas akademika UNUSA memberikan pengalaman belajar yang tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi juga melalui pertemuan dengan individu dari latar belakang dan negara yang berbeda.

Melalui 6th BRAVE UNUSA, pembahasan mengenai kemiskinan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi ditempatkan dalam konteks peran generasi muda sebagai bagian dari upaya mencapai SDGs. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk mendorong mahasiswa agar melihat tantangan global sebagai persoalan bersama yang dapat direspons melalui pendidikan, kolaborasi, dan kepemimpinan.

Pembukaan 6th BRAVE UNUSA menjadi awal dari rangkaian kegiatan internasional yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang. Melalui pertukaran pengalaman dan gagasan, program ini diharapkan dapat membangun semangat generasi muda untuk terus belajar, berkolaborasi, dan mengambil peran dalam menciptakan perubahan yang berdampak.

Kegiatan BRAVE 6th UNUSA turut mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui penyediaan ruang pembelajaran dan pertukaran pengetahuan lintas negara. Pembahasan mengenai pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi juga berkaitan dengan SDG 1 (No Poverty) dan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), yang menempatkan generasi muda sebagai salah satu kelompok penting dalam pembangunan berkelanjutan.

Melalui BRAVE 6th UNUSA, pengalaman internasional ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran budaya, tetapi berkembang menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk belajar, membangun kolaborasi, dan mengambil langkah nyata dalam mendukung SDGs.(AN)