Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata santri? Sebagian besar mungkin akan membayangkan kehidupan yang terfokus pada mengaji, belajar ilmu agama, dan menempuh pendidikan formal. Gambaran ini tidak salah, namun di era modern, tantangan seorang santri menjadi jauh lebih kompleks. Kondisi nyata bisa kita lihat Pondok Pesantren ‘Alimussirry, pondok pesantren yang khusus menampung para mahasiswa yang berkuliah di berbagai kampus di sekitarnya. Kewajiban mereka lebih dari pada itu, sukses sebagai mahasiswa di kampus dan tekun sebagai santri di pondok.

Namun, dibalik rutinitas padat itu, ada dua masalah besar. Pertama, para santri ini diakui berada di zona nyaman mereka hanya terfokus pada belajar, kuliah, dan ngaji. Mereka belum tergerak untuk mengembangkan potensi lain. Kedua, pondok pesantren itu sendiri belum mandiri secara ekonomi. Semua kebutuhan operasional masih bergantung pada pembayaran santri, dan tak jarang harus ditopang oleh anggaran pribadi pengasuh pondok.

Bagaimana jika kedua masalah ini bisa diselesaikan dengan satu solusi? Bagaimana jika para santri mahasiswa ini, dengan bekal ilmu dan karakter mereka, bisa menjadi motor penggerak ekonomi pesantren? Inilah yang coba diwujudkan oleh tim dosen pengabdi dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Di masa depan, persaingan global akan semakin ketat. Tidak ada jaminan bahwa semua lulusan pesantren akan menjadi ulama atau mendapatkan pekerjaan di bidang agama. Mereka perlu keahlian lain, dan salah satu yang paling menjanjikan adalah kewirausahaan.

Business startup concept. Flat diverse people work together with laptop, books. Teamwork develop idea or launch project boost. Successful start up product development. Man analysing company statistics

Visinya sangat mulia melahirkan entrepreneurship yang handal dan mandiri, yang memegang teguh nilai-nilai Islami sebagai pijakan. Santri yang melek bisnis tidak hanya akan sukses secara pribadi, tetapi juga bisa menjadi aset berharga bagi negara, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, dan membantu tata kelola perekonomian pondok. Pesantren, yang selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan, juga diharapkan bisa berperan sebagai agen perubahan (agent of change) di bidang ekonomi.

Masalah utamanya ternyata bukan pada niat. Setelah disurvei, hasilnya mengejutkan: 68 persen santri mahasiswa di sana ternyata memiliki minat untuk berwirausaha. Hanya 32 persen yang tidak berminat. Minat yang tinggi ini adalah peluang emas. Yang menjadi penghalang adalah kurangnya wawasan dan pengetahuan praktis. Meskipun berstatus mahasiswa, mereka mengakui bahwa di kampus kebanyakan hanya mendapatkan teori, bukan praktik. Mereka tidak tahu harus mulai dari mana.

Di sinilah program pengabdian masyarakat (PPM) ini mengambil peran sebagai kemitraan multi-pihak. Tim Unusa merancang solusi yang terdiri dari tiga langkah utama:

  1. Pelatihan Wirausaha: Ini adalah fondasinya. Para santri tidak hanya diberi motivasi, tetapi juga pelatihan kejuruan konkret tentang proses menjadi wirausaha mulai dari memunculkan ide bisnis, merealisasikan usaha itu, hingga cara mendapatkan keuntungan. Pelatihan ini diadakan sebulan sekali di aula pesantren.
  2. Pelatihan Tata Kelola Ekonomi: Tujuannya agar bisnis yang kelak terbentuk bisa dikelola secara profesional sebagai unit usaha kecil dan menengah (UKM) milik pondok pesantren, yang dikelola langsung oleh para santri.
  3. Pendampingan Berkelanjutan: Ini adalah bagian terpenting. Program ini tidak “sekali datang lalu hilang”. Tim pengabdi berkomitmen melakukan pendampingan sebagai bentuk pembangunan kapasitas setelah pelatihan selesai. Pendampingan ini ada yang bersifat rutin (setiap dua minggu sekali) dan ada yang bersifat insidental (ketika ada program wirausaha baru).

Yang lebih menarik dari proses pendampingan ini adalah penerapan sistem peer-to-peer. Bukan hanya tutor yang membimbing. Para santri yang dianggap sudah lebih mampu dan mahir didorong untuk membantu rekan-rekan mereka yang masih tertinggal atau belum mampu. Ini menciptakan ekosistem belajar yang suportif dan kolaboratif.

Hasil dari program ini sangat berdampak positif. Selama pelatihan, para santri mahasiswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Banyak dari mereka yang aktif mengajukan pertanyaan seputar seluk-beluk menjadi seorang wirausaha. Kegiatan ini berhasil menambah wawasan dan, yang lebih penting, menumbuhkan keinginan untuk segera membuat ide usaha dan merealisasikannya.

Tim pengabdi berharap ilmu ini tidak berhenti, tetapi dapat segera dipraktikkan. Beberapa saran dari tim pengabdi disampaikan kepada para santri; jangan berhenti belajar sebagai bagian dari pembelajaran seumur hidup. Ikuti seminar-seminar kewirausahaan, bergabung dengan komunitas wirausaha muda untuk memperluas relasi, dan yang terpenting, jangan takut untuk mencoba. Tidak perlu langsung besar dimulai berwirausaha kecil-kecilan terlebih dahulu, misalnya memulai bisnis online via marketplace seperti Shopee. 

Langkah-langkah kecil ini diharapkan dapat memberikan rasa nyaman dan kepercayaan diri bagi santri untuk terus membangun bisnis mereka menjadi lebih besar di kemudian hari. Kisah dari Pondok Pesantren Jagad Alimussirry ini adalah bukti nyata bahwa santri tidak harus memilih antara ilmu agama dan ilmu dunia. Dengan bimbingan yang tepat, mereka bisa menguasai keduanya menjadi intelektual yang religius sekaligus wirausahawan yang beretika.(***)