GENERASI Z (Gen Z)—mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 adalah generasi yang unik. Di Indonesia saja, jumlah mereka mencapai 75,49 juta jiwa, atau setara dengan 27,94% dari total populasi, menjadikan mereka kelompok demografis terbesar. Sejak lahir, mereka sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi dan sebagian besar hidupnya sangat bergantung pada gawai. Mereka jago mencari informasi, lincah bermain di media sosial, dan cepat beradaptasi dengan aplikasi baru.
Namun, dibalik kecakapan teknologi itu, ada sebuah paradoks yang mengkhawatirkan. Banyak pengamat dan pendidik melihat adanya keterbatasan kemampuan Gen Z dalam satu hal krusial: critical thinking atau berpikir kritis. Ini adalah sebuah masalah besar. Sebab, generasi inilah yang sebentar lagi akan menguasai lapangan pekerjaan dan menjadi konsumen terbesar. Mereka dituntut menjadi sumber daya manusia yang kompeten dengan keterampilan kerja yang mumpuni.
Sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang menarik dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) untuk menghadapi masalah ini. Tim pengabdi mendatangi sebuah pondok pesantren mahasiswa di Surabaya, Pondok Pesantren Jagad ‘Alimussirry. Para santri sekaligus sebagai mahasiswa dari berbagai universitas seperti ITS, UNESA, UNUSA, dan UINSA. Mereka semua adalah bagian dari Gen Z yang menghadapi tantangan ganda: sebagai mahasiswa, santri, dan individu yang kelak akan terjun ke masyarakat untuk mencari pekerjaan yang layak.
Apa yang sebenarnya menghambat Gen Z, yang notabene cerdas secara digital, untuk berpikir kritis? Penelitian ini mengidentifikasi beberapa akar masalah yang sering kita jumpai.
Pertama, sistem pendidikan berkualitas di Indonesia secara umum lebih menekankan pada hard skill atau pengetahuan teknis. Fokus pada kemampuan kognitif dan hafalan ini membuat para siswa termasuk para santri kesulitan mengembangkan cara berpikir kritis dan kreatif dalam memahami lingkungan sosial mereka. Kedua, faktor budaya yang unik, para peneliti menemukan bahwa faktor seperti malu atau sungkan seringkali menghambat para santri. Mereka jadi ragu untuk bertanya, sulit mengidentifikasi masalah secara terbuka, dan enggan menolak sebuah asumsi, padahal semua itu adalah inti dari berpikir kritis.
Ketiga, adalah adanya miskonsepsi fundamental. Dari hasil observasi awal, banyak santri yang menganggap bahwa keterampilan berpikir kritis adalah bakat bawaan atau genetik. Mereka meyakini, seberapa keras mereka mencoba, mereka tidak akan pernah bisa. Anggapan keliru ini membuat mereka akhirnya merasa bahwa soft skill ini tidak perlu diasah sebagai bagian dari pembelajaran seumur hidup. Mereka menyerah bahkan sebelum memulai.
Melihat masalah ini, tim pengabdian Unusa tidak tinggal diam. Dengan merancang sebuah workshop yang bertujuan memberikan wawasan dan peningkatan soft skill dalam pemecahan masalah yang menekankan critical thinking. Para santri diajak terlibat aktif melalui studi kasus, diskusi , dan sesi role play atau bermain peran.
Dalam sesi role play inilah masalahnya terlihat jelas, para santri yang diberi skenario masalah sehari-hari ternyata cepat menyimpulkan tanpa melakukan evaluasi atas suatu peristiwa dan mudah berasumsi mereka sudah mengetahui permasalahannya. Kemudian, para fasilitator membedah pendekatan para santri tersebut. Mereka diberi masukan tentang cara melihat peristiwa atau masalah dengan pendekatan yang lebih sistematis. Mereka diajarkan materi lanjutan mengenai critical thinking dan lateral thinking, serta pentingnya kedua keterampilan itu.
Para peneliti mengukur pengetahuan peserta menggunakan kuesioner sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) kegiatan. Hasilnya sangat signifikan. Sebelum pelatihan, rata-rata skor pengetahuan peserta hanya 46,4. Namun, setelah sosialisasi, skor tersebut meningkat drastis menjadi 84,6.
Studi kasus di Ponpes Jagad ‘Alimussirry ini memberikan kita harapan besar. Generasi Z, dengan segala ketergantungan mereka pada gawai, bukanlah generasi yang gagal dalam berpikir kritis. Mereka hanya perlu dibekali dengan cara yang tepat.
Kegiatan ini membuktikan bahwa critical thinking bukanlah bakat genetik. Ia adalah sebuah soft skill yang bisa dipelajari, dilatih, dan diasah, sama seperti keterampilan lainnya. Antusiasme para santri selama kegiatan menunjukkan bahwa mereka menyadari pentingnya kemampuan ini untuk menghadapi tantangan di dunia kerja dan mendukung pekerjaan bagi kaum muda.
Hasil dari kegiatan ini adalah cermin dan panggilan bagi sistem pendidikan kita. Untuk mempersiapkan Gen Z yang kompeten, kita tidak bisa hanya mengandalkan kecakapan teknologi mereka. Kita perlu secara seimbang menanamkan kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan memecahkan masalah. Sebab, di masa depan yang serba cepat, teknologi hanyalah alat, pemikiran kritis yang tetap menjadi kemudinya.(***)