TINGGINYA angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) di sektor konstruksi menjadi perhatian serius para ahli dan pihak terkait. Berdasarkan data internasional dan nasional, kecelakaan kerja yang disebabkan oleh minimnya kesadaran akan penerapan Alat Pelindung Diri (APD) terus meningkat, sehingga menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan pekerja. Sebagai respons, sebuah penelitian inovatif dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya mempresentasikan langkah strategis untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pekerja terhadap penggunaan APD melalui kegiatan edukasi langsung.

Penelitian tersebut berjudul “Meningkatkan Kesadaran Penggunaan APD untuk Mengurangi Risiko PAK pada CV Ghalea Elka Persada” yang dipelopori oleh tim peneliti yang terdiri dari Diana Luthfiyah, Merry Sunaryo, Ratna Ayu Ratriwardhani, Khalisa Afifah Ridwan, dan Muhammad Fatih Rizqon Akbar. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode one group pre-test and post-test, kegiatan ini melibatkan 10 pekerja di lokasi proyek pembangunan fasilitas pelatihan forklift di Surabaya.

Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan sikap pekerja setelah mengikuti edukasi langsung mengenai pentingnya penggunaan APD. Dari data yang diperoleh, 70% responden mengalami peningkatan nilai pada post-test dibandingkan pre-test mereka. Selain itu, jumlah pekerja yang masuk kategori “Sangat Baik” dalam kepatuhan terhadap penggunaan APD meningkat dari 7 menjadi 9 orang. Peneliti juga menyoroti bahwa kegiatan seperti sosialisasi, pelatihan praktik langsung, serta diskusi interaktif efektif dalam membangun kesadaran dan disiplin penggunaan APD di kalangan pekerja konstruksi.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi model dalam upaya pencegahan kecelakaan di industri konstruksi secara lebih luas,” ujar salah satu anggota tim peneliti. Ia menambahkan, bahwa edukasi yang sistematis dan berkelanjutan diperlukan agar pekerja tidak hanya memahami manfaat APD, tetapi juga merasa nyaman dan rutin menggunakannya.

Selain itu, penelitian ini juga menyoroti kendala yang dihadapi di lapangan, seperti rasa tidak nyaman saat memakai APD dan kurangnya pemahaman tentang bahaya kerja. Oleh sebab itu, materi edukasi disusun sesuai kondisi riil di lapangan dan menggunakan pendekatan komunikatif agar penerapan APD menjadi kebiasaan positif di tempat kerja.

Hasil riset ini disambut baik oleh kalangan industri dan pemerintah sebagai langkah nyata dalam menurunkan angka kecelakaan kerja serta meningkatkan kesejahteraan pekerja. Keberhasilan edukasi ini juga membuka peluang untuk pengembangan program pelatihan serupa di sektor lain yang berisiko tinggi.

Pihak universitas dan perusahaan mitra berharap kegiatan ini dapat diperluas dan dilakukan secara rutin, sehingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dapat dijadikan budaya di semua lini industri konstruksi. Rencana pengembangan selanjutnya meliputi pemantauan berkala dan evaluasi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan hasil positif yang telah dicapai.

Keselamatan para pekerja adalah tanggung jawab bersama. Melalui edukasi inovatif dan komitmen semua pihak, diharapkan kejadian kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat diminimalisasi demi terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.(***)