PADA tahun 2021 insiden TBC sebanyak 354 per 100.000 penduduk, yang artinya setiap 100.000 orang di Indonesia terdapat 354 orang di antaranya yang menderita TBC. Angka kematian akibat TBC di Indonesia mencapai 150.000 kasus, naik 60% dari tahun 2020. Dengan tingkat kematian sebesar 55 per 100.000 penduduk.

Pondok pesantren merupakan lingkungan padat penduduk terdiri dari santri dan santriwati beserta pengurus dimana satu dan yang lainnya memiliki frekuensi kontak yang sangat erat setiap harinya. Hal tersebut merupakan salah satu faktor yang berpotensi tempat penyebaran infeksi tuberculosis.

Berdasarkan survei dan kajian di Pondok Pesantren Hidayatullah Al-muhajjirin Bangkalan terdapat masalah yang ditemukan yaitu santri, santriwati masih belum memahami bahwa pentingnya PHBS dalam pencegahan suatu penyakit infeksi, dan juga kebijakan dari pengurus pondok yang masih belum fokus pada PHBS yang tepat guna untuk penerapan di Pondok Pesantren.

Selain itu, di PP tersebut juga dijumpai permasalahan keterbatasan kader kesehatan terhadap program kesehatan Infeksi TBC baik dari dalam lingkungan pondok pesantren maupun dari fasilitas kesehatan setempat. Hal ini menyebabkan kurang nya pengetahuan santri/santriwati terhadap PHBS dalam pencegahan infeksi TBC, dan di dukung dengan pemenuhan pangan yang bergizi dan berimbang masih kurang.

Dari permasalahan tersebut, dilakukan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh dr. Hotimah Masdan Salim, Ph.D., dan tim. Kegiatan ini diawali dengan memberikan edukasi kepada santri PP Hidayatullah Al-muhajjirin Bangkalan mengenai pentingnya penerapan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Kegiatan ini bertujuan merupakan upaya pencegahan penularan infeksi tuberculosis.

Kemudian, kegiatan selanjutnya adalah skrining pencegahan tuberculosis dengan dua metode yaitu dengan menilai tanda-tanda vital dan hasil pemeriksaan serta skrining mandiri menggunakan aplikasi SIGAP-TBC yang dilakukan oleh tiap individu santri atau santriwati Ponpes Hidayatulloh Al Muhajirin, Bangkalan. SiGaP-TBC adalah program berbasis teknologi yang nantinya dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi TBC pada tiap santri dan santriwati.

Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa, program SiGaP-TBC yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Muhajirin terbukti menjadi inisiatif yang efektif dan komprehensif dalam memerangi tuberkulosis (TB). Program ini berhasil menggabungkan kegiatan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat setempat melalui integrasi kebun mandiri yang bertujuan untuk mempromosikan hidup sehat.(***)