Malaysia – Sebanyak 35 santri dari Pondok Pesantren An Nahdloh yang terletak di Selangor, Malaysia, mengikuti program pengabdian masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pengelolaan sampah. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 7 hingga 9 Agustus 2025, dan melibatkan seluruh santri dari tingkat SD hingga SMP.
Program ini dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan yang inovatif dan interaktif, seperti sosialisasi menggunakan ceramah dan diskusi, demonstrasi enam langkah mencuci tangan pakai sabun, serta praktik langsung pemilahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya sesuai regulasi. Pendekatan ini dirancang agar santri tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mampu menginternalisasi keterampilan secara praktis sehingga kebiasaan hidup bersih dapat terwujud secara berkelanjutan.
Hasil evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Nilai rata-rata untuk pengetahuan dan kebiasaan tentang PHBS meningkat dari angka 49,65 menjadi 96,8, sedangkan untuk pengelolaan sampah dari 57,69 melonjak menjadi 97,56. Perubahan ini mencerminkan keberhasilan pendekatan edukasi yang menggabungkan teori dan praktik secara menyeluruh.
Data awal menunjukkan tantangan besar yang dihadapi pesantren, seperti adanya kasus scabies pada 50% santri, serta kebiasaan mencuci tangan yang belum sesuai enam langkah yang dianjurkan sebanyak 57,7%. Selain itu, sebanyak 69,2% dari santri belum membiasakan diri memilah sampah, dan terbatasnya akses air bersih berkualitas menambah risiko penyebaran penyakit yang berbasis lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dan kesadaran santri terhadap pentingnya kebersihan lingkungan masih perlu ditingkatkan.

Selain aspek edukasi, program ini juga memperkenalkan teknologi sederhana, seperti penggunaan tempat sampah terpilah dan uji kualitas air dasar (pH), agar peserta dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya ini diharapkan mampu memacu perbaikan lingkungan dan kesehatan sanitasi di pesantren, serta menjadi model yang dapat direplikasi di pesantren lain.
Lebih dari sekadar peningkatan pengetahuan, kegiatan ini mendorong adanya transformasi sikap dan kebiasaan yang berkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut, pesantren disarankan mengintegrasikan materi PHBS dan pengelolaan sampah ke dalam kurikulum serta kegiatan ekstrakurikuler, sehingga setiap santri dapat secara rutin mempraktikkan pola hidup bersih dan pengelolaan sampah yang benar.
Selain itu, pembentukan kader santri sebagai agen perubahan internal diharapkan mampu menjaga keberlanjutan program ini secara mandiri. Langkah ini akan memperkuat budaya hidup bersih di lingkungan pesantren dan menjadikannya sebagai miniatur komunitas sehat yang berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan mencegah penyebaran penyakit.
Kegiatan ini didukung penuh oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), dan menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi lintas institusi dalam menciptakan lingkungan pesantren yang sehat dan ramah lingkungan. Dengan keberhasilan ini, diharapkan program yang sama dapat dikembangkan dan diperluas ke pesantren-pesantren lain di wilayah Malaysia maupun Indonesia, demi mewujudkan generasi yang peduli dan sadar akan pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.