PERKULIAHAN adalah sebuah tempat di mana seorang mahasiswa ditantang untuk mencari berbagai pengalaman, karena pada hakikatnya, pengalaman adalah guru kehidupan yang paling berharga. Di era ini persaingan global menuntut lebih dari sekadar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, kemampuan beradaptasi, wawasan lintas budaya, dan pemahaman akan etos kerja profesional menjadi mata uang baru. Teori sebagai bagian dari pendidikan berkualitas yang dipelajari di bangku kuliah harus diuji dan diperkaya di dunia nyata.

Memahami filosofi ini, tiga mahasiswa terpilih dari program studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi Bisnis dan Teknologi Digital (FEBTD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), telah mengambil langkah berani. Kabar baik datang dari partisipasi mereka dalam “Ishikawa Study Tour Program by YOU-I Japan” sebuah kemitraan gobal yang bergengsi. Mulai dari 25 September hingga 2 Oktober 2025, mereka tidak hanya menginjakkan kaki di Ishikawa, Jepang, tetapi juga mengenali budaya dan dunia industri yang telah lama dikagumi dunia.

Ini adalah sebuah program intensif yang dirancang oleh YOU-I GROUP, sebuah grup pertukaran internasional terkemuka di Ishikawa. Melalui YOU-I ACADEMY, mereka menawarkan sebuah metode pembelajaran bahasa dan budaya Jepang yang unik. Alih-alih pengajar lokal, pembelajaran dilakukan oleh orang asing yang telah lama menetap di Jepang, termasuk dalam bahasa ibu peserta, seperti Bahasa Indonesia. Pendekatan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan budaya dan membuat materi lebih mudah dicerna.

Tujuan utama program ini sangat jelas yaitu memberikan pengenalan budaya yang mendalam, studi lapangan yang terfokus, dan kunjungan ke perusahaan-perusahaan terkemuka di Jepang. Tiga mahasiswa Manajemen UNUSA ini diberi kesempatan emas untuk memperluas wawasan mereka terhadap dunia industri global dan, yang terpenting, membedah secara langsung etos kerja masyarakat Jepang sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan yang layak..

Perjalanan mereka adalah sebuah kurikulum padat yang memadukan akademik, industri, dan warisan budaya. Rangkaian kunjungan mereka memberikan gambaran holistik tentang bagaimana Jepang beroperasi. Mereka berkesempatan mengunjungi Komatsu University, di mana mereka dapat membandingkan sistem pendidikan tinggi dan melihat bagaimana universitas berkolaborasi dengan industri lokal. Kunjungan ini membuka mata tentang bagaimana dunia akademik di Jepang mencetak lulusan yang siap pakai dan disiplin.

Mereka juga berkesempatan mengunjungi Kyowa Co., Ltd. Di sinilah mereka menyaksikan implementasi nyata dari konsep kaizen (perbaikan berkelanjutan) dan monozukuri (semangat dalam menciptakan produk unggul). Bagi mahasiswa Manajemen, melihat langsung bagaimana sebuah perusahaan Jepang mengelola rantai pasok, menjaga presisi, dan menanamkan efisiensi untuk efisiensi ekonomi adalah sebuah kuliah praktikum yang tak ternilai harganya.

Tidak berhenti di manufaktur, wawasan mereka diperluas ke sektor jasa dan kesehatan melalui kunjungan ke Nishi Kanazawa Hospital dan Kenso Plus. Di rumah sakit, mereka tidak hanya melihat teknologi medis, tetapi juga mengobservasi omotenashi konsep keramahtamahan dan pelayanan yang diterapkan dalam merawat pasien. Ini adalah pelajaran penting tentang bagaimana manajemen pelayanan (service management) dapat dieksekusi dengan baik. 

Tentu saja, untuk memahami etos kerja modern, seseorang harus memahami sejarah yang membentuknya. Kunjungan ke destinasi wisata edukatif seperti Kanazawa Castle memberikan konteks budaya tersebut. Mereka belajar bagaimana nilai-nilai feodal seperti kesetiaan, kehormatan, dan ketekunan berevolusi menjadi etos kerja yang mereka saksikan.

Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Bagas, salah satu peserta, mengakui bahwa tantangan terbesar selama program adalah mempelajari bahasa Jepang. Ini bukan sekadar soal menghafal kosa kata, tetapi sebuah keterampilan untuk memahami nuansa, tingkat kesopanan (keigo), dan gestur yang sangat krusial dalam interaksi sosial maupun bisnis di Jepang. Tantangan ini justru menjadi pelajaran terpenting, bahwa untuk benar-benar memahami sebuah budaya, penguasaan bahasa adalah kuncinya.

Mereka membawa pulang pengetahuan mendalam tentang disiplin, presisi, dan rasa hormat yang menjadi kunci kesuksesan industri Jepang. Mereka telah melihat, mendengar, dan merasakan langsung apa yang dimaksud dengan etos kerja kelas dunia. Bagi UNUSA, keberhasilan mahasiswanya berpartisipasi dalam program ini adalah bukti komitmen universitas untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga ‘melek’ secara global. Program seperti Ishikawa Study Tour ini adalah investasi tak ternilai dan bentuk berbagi pengetahuan dalam membangun sumber daya manusia yang siap bersaing. (***)