HIPERTENSI masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Menurut World Health Organization (WHO, 2021), sekitar 1,28 miliar orang berusia 30–79 tahun menderita hipertensi, dan hampir separuhnya tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut. Di Indonesia, berdasarkan Riskesdas (2018), prevalensi hipertensi pada kelompok lansia terus meningkat seiring pertambahan usia. Data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur (2021) menunjukkan bahwa 36,3% penduduk provinsi ini mengalami hipertensi, dengan jumlah tertinggi pada kelompok usia lanjut.

Fenomena serupa juga terjadi di wilayah kerja Puskesmas Wonokromo Surabaya. Data tahun 2020 mencatat 532 lansia dengan hipertensi, meningkat menjadi 731 pada tahun 2021, dan meski menurun menjadi 708 pada 2022, jumlah ini masih tergolong tinggi. Banyak lansia tidak menyadari faktor risiko hipertensi, terutama obesitas, yang berperan penting dalam memperburuk tekanan darah dan menurunkan kualitas hidup.

Penelitian yang dilakukan oleh Lingga Anatasya, Nur Ainiyah, Nety Mawarda Hatmanti, dan Siti Maimunah dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menyoroti hubungan antara obesitas dan kualitas hidup lansia hipertensi di wilayah tersebut. Hasil awal menunjukkan bahwa obesitas tidak hanya meningkatkan risiko hipertensi dua kali lipat, tetapi juga berpengaruh terhadap kesejahteraan fisik, psikologis, dan sosial lansia.

Secara fisiologis, obesitas dapat memicu peningkatan tekanan darah melalui mekanisme kompleks, seperti peningkatan reabsorbsi natrium di ginjal dan aktivasi sistem renin-angiotensin serta saraf simpatik. Perubahan ini menyebabkan ginjal kehilangan kemampuan mengatur tekanan darah secara normal, sehingga tekanan darah terus meningkat. Dampaknya, lansia dengan obesitas sering kali mengalami pusing, mudah lelah, sesak napas, serta nyeri dada—gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup.

Kualitas hidup lansia sendiri mencakup aspek kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan. Lansia hipertensi yang mengalami obesitas cenderung mengalami keterbatasan gerak, nyeri tubuh, penurunan vitalitas, hingga risiko demensia di usia lanjut. Meski demikian, beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda, di mana pada kelompok lansia tertentu, peningkatan indeks massa tubuh (IMT) justru tampak tidak selalu berpengaruh negatif terhadap kognitif dan harapan hidup.

Melalui penelitian ini, tim dosen UNUSA berharap dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pengaruh obesitas terhadap kualitas hidup lansia hipertensi, sekaligus menjadi dasar bagi intervensi kesehatan masyarakat di wilayah Surabaya. Temuan ini juga dapat menjadi acuan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga berat badan ideal dan menerapkan gaya hidup sehat pada lansia.

Upaya ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG) 3 – Good Health and Well-Being, yang menekankan pentingnya peningkatan kualitas hidup melalui pencegahan penyakit tidak menular seperti hipertensi dan obesitas. Dengan pengelolaan yang tepat, diharapkan lansia dapat menikmati masa tua yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera. (***)