PENYAKIT jantung koroner masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), lebih dari 6,7 juta orang meninggal akibat penyakit ini setiap tahunnya, dan di kawasan Asia, termasuk Indonesia, prevalensinya mencapai sekitar 250 juta jiwa. Salah satu keluhan utama yang paling sering dialami penderita penyakit jantung koroner adalah nyeri dada atau angina.
Rasa nyeri yang datang tiba-tiba ini tak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat mempengaruhi status hemodinamika tubuh, yaitu keseimbangan antara tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan.
Fenomena ini juga banyak ditemukan di ruang ICU RS Islam Surabaya Jemursari. Pasien yang mengalami nyeri dada mendadak sering kali tampak cemas, berkeringat, dan sesak napas. Kondisi tersebut jika tidak segera ditangani dapat memperburuk tanda-tanda vital bahkan menurunkan kesadaran.
Biasanya, pasien akan diberi terapi farmakologis berupa obat-obatan untuk meredakan nyeri. Namun, para dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mencoba menawarkan pendekatan lain yang lebih menenangkan dan bernuansa spiritual, yaitu melalui terapi murottal Al-Qur’an.
Penelitian ini dilakukan oleh Ratna Yunita Sari, Riska Rohmawati, Imamatul Faizah, Siti Nur Hasina, dan Rahmadaniar Aditya Putri. Mereka meneliti bagaimana lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dapat mempengaruhi tingkat nyeri dan stabilisasi hemodinamika pasien dengan penyakit jantung koroner. Murottal Al-Qur’an yang diperdengarkan mencakup surat-surat seperti Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, Ayat Kursi, Yasin ayat ke-58, Al-An’am ayat 1–3 dan 13, serta Ar-Rahman ayat 1–78. Surat Ar-Rahman dipilih karena memiliki tempo sekitar 79,8 bpm—seirama dengan denyut jantung manusia—yang dapat menimbulkan efek relaksasi dan menurunkan stres.
Terapi murottal bekerja dengan cara merangsang otak untuk memproduksi neuropeptida, yaitu zat kimia alami yang memberikan rasa nyaman dan ketenangan. Saat pasien mendengarkan lantunan ayat suci, otak memasuki gelombang yang lebih lambat dan tenang, sehingga nyeri terasa berkurang dan kondisi fisiologis menjadi lebih stabil. Penelitian sebelumnya oleh Aziza (2019), Hidayah (2013), dan Handayani (2016) juga menunjukkan bahwa terapi murottal mampu menurunkan intensitas nyeri secara signifikan pada pasien di ruang perawatan intensif.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 204: “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” Ayat ini menjadi landasan spiritual bahwa mendengarkan bacaan Al-Qur’an bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga dapat membawa efek terapeutik bagi jiwa dan raga.
Penelitian yang dilakukan tim dosen UNUSA ini membuktikan bahwa aspek spiritual dapat berpadu dengan pendekatan medis dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Dengan pemberian terapi murottal Al-Qur’an, nyeri pasien berkurang dan tanda-tanda vital menjadi lebih stabil. Hasil ini menjadi bukti bahwa penyembuhan sejati tidak hanya bersumber dari obat, tetapi juga dari ketenangan batin.
Upaya ini juga sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being), yang menekankan pentingnya kesehatan menyeluruh, termasuk kesehatan mental dan spiritual, sebagai bagian dari kesejahteraan manusia. Melalui penerapan terapi murottal, diharapkan pelayanan keperawatan dapat semakin holistik—menyentuh aspek fisik, psikologis, dan spiritual pasien secara utuh. (***)