MENJADI seorang ibu merupakan fase baru yang sarat makna dalam kehidupan perempuan. Masa nifas, yang dimulai setelah melahirkan, tidak hanya menjadi waktu pemulihan fisik, tetapi juga masa adaptasi psikologis bagi ibu dalam menjalankan peran barunya. Pada tahap ini, dukungan dari orang terdekat terutama suami menjadi faktor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan ibu dalam menyesuaikan diri dan menjalankan perannya sebagai orang tua.

Menurut Erfina dan rekan (2019), pencapaian peran ibu tidak dapat terwujud tanpa adanya dukungan keluarga, khususnya dari suami. Dukungan ini dapat berupa bantuan emosional, penghargaan, informasi, maupun bantuan praktis dalam mengasuh bayi dan mengelola rumah tangga. Suami yang hadir dan terlibat aktif memberikan rasa aman, meningkatkan kepercayaan diri ibu, serta membantu menstabilkan kondisi emosional pasca persalinan. Sayangnya, realitas di lapangan masih menunjukkan banyak suami yang kurang memberikan perhatian pada masa awal kehamilan hingga masa nifas karena berbagai alasan, salah satunya kesibukan kerja di luar kota.

Padahal, masa nifas sering kali disertai perubahan fisik dan mental yang tidak mudah. Sebanyak 80% wanita diketahui mengalami berbagai masalah psikologis setelah melahirkan (Irianti & Herliana, 2011). Penelitian yang dilakukan oleh Bambang Kriscahyo di Puskesmas Jagir Surabaya menunjukkan bahwa bentuk dukungan suami yang paling banyak diberikan adalah dukungan emosional sebesar 73%, diikuti dukungan instrumental 63%, penghargaan 53%, dan informasi 48%. Data ini menegaskan bahwa bentuk dukungan emosional — seperti perhatian, empati, dan kebersamaan — memiliki peran besar dalam membantu ibu beradaptasi dengan peran barunya.

Hasil wawancara awal di ruang Mawar RSI Jemursari Surabaya juga memperlihatkan hal serupa. Dari lima ibu primipara yang diwawancarai, dua orang mengaku jarang ditemani suami karena bekerja di luar kota, sedangkan tiga lainnya menyatakan bahwa suami selalu mendampingi sejak masa kehamilan hingga persalinan. Perbedaan pengalaman ini menunjukkan betapa besar pengaruh kehadiran suami terhadap kenyamanan dan kesiapan ibu menjalani masa nifas.

Penelitian yang dilakukan oleh dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) yaitu Raden Kahiriyatul Afiyah, Ratna Yunita Sari, dan Imamatul Faizah, menggunakan pendekatan teori Maternal Role Attainment – Becoming a Mother yang dikemukakan oleh Ramona T. Mercer (1991). Teori ini menekankan bahwa pencapaian peran ibu merupakan proses dinamis yang berkembang melalui interaksi antara ibu, bayi, dan lingkungan sekitarnya. Dukungan sosial, terutama dari suami, menjadi faktor utama yang memperkuat proses tersebut dan membantu mengurangi tekanan emosional yang kerap muncul setelah melahirkan.

Melalui penelitian ini, para dosen UNUSA berharap masyarakat semakin memahami bahwa dukungan suami bukan hanya sekadar kehadiran fisik, tetapi juga keterlibatan emosional dan psikologis yang dapat mempercepat pencapaian peran ibu secara optimal. Kehangatan, empati, dan perhatian yang tulus dari pasangan terbukti mampu menciptakan suasana positif bagi ibu dalam menjalani masa transisi menjadi seorang ibu seutuhnya. Dukungan ini pada akhirnya tidak hanya menyehatkan secara mental, tetapi juga memperkuat ikatan keluarga dan kesejahteraan bersama.

Kegiatan penelitian ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3: Good Health and Well-Being (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), yang menekankan pentingnya kesehatan ibu dan dukungan sosial dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Dengan peran aktif suami dan pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan mental ibu, diharapkan tercipta keluarga yang harmonis, sehat, dan bahagia. (***)