DIBALIK cita-cita besar menghadirkan pendidikan untuk keberlanjutan, ada satu faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu guru. Tidak sekadar pengajar, guru adalah penggerak utama yang menentukan arah sekolah. Namun, bagaimana bisa lahir guru yang berkualitas jika kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis mereka kerap terabaikan. Hidup sehat bagi guru bukan hanya soal fisik, tetapi juga kondisi batin yang stabil agar mereka mampu beradaptasi dengan teknologi, menumbuhkan budaya literasi, dan mengelola kelas secara efektif.

Menyadari hal ini, dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya bersama mitra perguruan tinggi lain melakukan studi di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dengan melibatkan 474 guru sekolah dasar. Tujuannya adalah meneliti faktor personal dan profesional yang mempengaruhi manajemen sekolah berbasis sumber daya manusia.

Penelitian ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kondisi pendidikan dasar yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dampak pandemi, keterbatasan fasilitas, hingga beban sertifikasi. Guru diminta mengisi kuesioner tentang pengalaman mengajar daring, penerapan literasi, dan kondisi kesehatan mental. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara statistik untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap efektivitas pengelolaan sekolah.

Tentu saja pelaksanaan penelitian tidak selalu berjalan mulus. Proses penelitian menghadapi kendala akses internet, namun teratasi berkat kerja sama komunitas guru dan penyesuaian instrumen dengan budaya lokal. Hasilnya cukup mengejutkan. Guru dengan mental sehat, pandangan positif terhadap pembelajaran daring, dan kebiasaan literasi yang baik terbukti meningkatkan kualitas manajemen sekolah. Menariknya, status kepegawaian, baik pegawai negeri maupun honorer, tidak berpengaruh signifikan.

Hasil penelitian menegaskan adanya tiga faktor yang paling menentukan, yaitu kesehatan mental positif, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran daring, dan implementasi literasi di sekolah. Guru yang telah mengikuti sertifikasi juga terbukti menunjukkan profesionalisme yang lebih tinggi. Hal ini menegaskan bahwa program sertifikasi guru bukan sekadar formalitas administratif, melainkan berperan penting dalam meningkatkan motivasi dan kinerja.

Dari temuan tersebut dapat ditarik satu kesimpulan penting. Guru bukan hanya pengajar, melainkan penggerak utama manajemen sekolah. Sekolah yang kuat hanya bisa berdiri di atas guru yang sehat mentalnya, terampil dalam memanfaatkan teknologi, dan tekun membangun budaya literasi. Pemerintah perlu memperkuat program sertifikasi dan peningkatan kompetensi guru agar pendidikan dasar di Indonesia benar-benar mampu menghasilkan generasi yang berkualitas.

Penelitian di Magetan ini, menegaskan bahwa kualitas pendidikan dasar sangat bergantung pada guru. Memberi dukungan terhadap kesehatan mental, kompetensi teknologi, serta kesejahteraan mereka menjadi kunci lahirnya sekolah yang kuat dan generasi bangsa yang unggul. (***)