DEMAM Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus. Jumlah penderita penyakit ini mengalami peningkatan di seluruh dunia pada beberapa dekade terakhir. Tak jarang, sebagian besar kasus tidak menunjukkan gejala sehingga jumlah penderita demam berdarah kurang dilaporkan. Selain itu, banyaknya kasus demam berdarah juga diakibatkan adanya salah diagnosis karena gejala nya hampir sama dengan demam lainnya.

Di Indonesia sendiri, tahun 2021 terdapat 73.5518 kasus DBD dengan jumlah kematian sebanyak 705 kasus. Berdasarkan peta sebaran dan grafik kasus kematian DBD nasional tahun 2020, Provinsi Jawa Timur memiliki risiko tinggi terhadap kejadian DBD. Provinsi Jawa Timur menduduki urutan ke-3 dengan jumlah kasus tinggi dan urutan ke-2 dengan kejadian kematian akibat DBD.  

Tingginya angka kejadian demam berdarah di Jawa timur membuat Retna Gumilang, dr., M.Biomed dan tim melakukan sebuah penelitian yang dilakukan di Kab. Gresik untuk mengetahui apakah kepadatan jentik nyamuk dapat menyebabkan penyakit DBD.

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2023 dengan mengambil sampel dari 17 kecamatan di Kabupaten Gresik.

Perhitungan kepadatan jentik nyamuk dilakukan dengan menghitung beberapa indikator kepadatan jentik yaitu Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan menggunakan rumus persentase dari perbandingan rumah yang pada tempat penampungan airnya tidak ditemukan jentik terhadap seluruh rumah responden, lalu menghitung indikator House Index (HI) yaitu persentase dari perbandingan rumah yang pada tempat penampungan air ditemukan keberadaan jentik terhadap seluruh rumah responden yang diperiksa.

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, didapatkan hasil bahwa peningkatan kejadian demam berdarah dapat diikuti oleh peningkatan angka bebas jentik. Begitu juga dengan peningkatan kejadian DBD akan diikuti oleh House Indeks

Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan tingkat signifikansi 5% dapat dikatakan terdapat hubungan yang negatif dan kuat, yakni sebesar -0.995, antara ABJ dan House Index. Dengan demikian, peningkatan ABJ akan diikuti oleh Penurunan House Index. (***)