ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia akan meningkat dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Berdasarkan penelitian, remaja usia 15-20 tahun memiliki kadar glukosa dengan status pre-diabetes melitus mencapai 42%. Angka kejadian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk merumuskan sebuah langkah-langkah pencegahan DM bagi remaja, dewasa dan lansia.
Defisiensi vitamin D pada penderita DM tipe 2 dapat diatasi dengan terapi berjemur dibawah sinar matahari pada pagi hari dengan batasan waktu yang tepat. Hal ini dilakukan untuk menurunkan kadar glukosa darah sehingga glukosa darah tetap setimbang. Namun, ada beberapa faktor risiko yang mempengaruhi kondisi keberhasilan terapi berjemur tersebut, diantaranya: riwayat keluarga, obesitas, olah raga, merokok, konsumsi makanan tinggi glukosa, stress.
Sebagai solusi dari permasalahan diatas, dr. Evi Sylvia Awwalia, Sp.PD dan tim melaksanakan webinar dan pelaksaan terapi di pagi hari secara rutin sebagai solusi dari diabetes melitus yang murah dan mudah dilakukan.
Program pemberdayaan masyarakat ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu webinar nasional “cegah diabetes melitus dengan rutin berjemur di pagi hari” melalui zoom meeting. Kemudian, program terapi berjemur dilakukan selama seminggu untuk masyarakat desa Jumputrejo RT 028, RW 009, Kec. Sukodono.
Untuk penyampaian materi penyuluhan disampaikan oleh 3 narasumber yaitu dr. Evi Sylvia Awwalia, Sp. PD, Ary Andini, dan Rizki Nurmalya Kardina. Masing-masing pemateri merupakan praktisi dibidangnya. Mereka menyampaikan materi tentang kenali gejala diabetes melitus, diet sehat mencegah diabetes, melitus, peran terapi berjemur dalam mencegah diabetes melitus.
Pada akhir sesi acara dilakukan evaluasi tingkat pemahaman ilmu yang telah disampaikan oleh ketiga pemateri. Berdasarkan hasil evaluasi menunjukkan jika peserta nilai rata-rata peserta mencapai 74,54 yang diikuti oleh 141 peserta. Nilai ini termasuk baik sehingga dapat diindikasikan jika penyampaian informasi telah berlangsung dengan baik.
Kemudian, kegiatan terapi berjemur diikuti oleh 30 peserta di hari ke-1 dan pada hari ke-7 mengalami penurunan menjadi 26 orang
Berdasarkan hasil pemeriksaan kadar glukosa darah pada sebelum dan setelah dilaksanakan kegiatan terapi berjemur didapatkan penurunan rerata kadar glukosa darah yaitu dari 163 mg/dl menjadi 141 mg/dl. Namun, tidak semua peserta mengalami penurunan kadar glukosa darah.
Terdapat 8 peserta yang mengalami kenaikan kadar glukosa darah, sedangkan 19 peserta mengalami penurunan kadar glukosa darah. Kenaikan kadar glukosa darah pada 8 peserta tersebut diduga tidak melaksanaan kegiatan berjemur di pagi hari secara rutin meskipun telah diberikan checklist untuk pelaksanaan kegiatan berjemur di pagi hari.
Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan peserta kegiatan tentang diabetes melitus mencapai 74,54. Sedangkan, tingkat keberhasilan terapi berjemur mencapai 73%.(***)