STROKE masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama, baik di negara maju maupun berkembang. Dampak terbesar dari penyakit ini adalah kecacatan, mulai dari gangguan motorik, otonom, sensorik, hingga kognitif. Kondisi ini membuat banyak penyintas stroke kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Di Amerika Serikat, tercatat ada sekitar 4 juta orang yang hidup dengan kondisi pasca-stroke, dan 15–30% di antaranya mengalami kecacatan menetap. Di Indonesia, prevalensi stroke menurut diagnosa dokter pada tahun 2018 mencapai 10,9%, bahkan di Jawa Timur angkanya lebih tinggi yaitu 12,4%.

Kondisi serupa juga terlihat di Kelurahan Wonokromo, Surabaya. Berdasarkan pendataan, 63% warga dewasa dan 37% lansia mengalami hipertensi, yang merupakan faktor risiko utama stroke. Selain itu, terdapat 7 warga penyintas stroke iskemik yang mengalami gangguan pada kemampuan berjalan (ambulasi). Sayangnya, kegiatan posyandu selama ini lebih berfokus pada balita dan lansia, sehingga kelompok usia dewasa kurang mendapat perhatian. Akibatnya, banyak kasus hipertensi tidak terdeteksi sejak dini dan berakhir pada stroke.

Salah satu langkah sederhana namun efektif untuk mencegah dan mengurangi dampak stroke adalah dengan melakukan aktivitas fisik terarah, salah satunya Bobath Therapy. Terapi ini merupakan latihan yang menstimulasi sistem saraf dan otot melalui gerakan pada ekstremitas. Penelitian menunjukkan bahwa Bobath Therapy dapat meningkatkan aliran darah pada otak, merangsang relaksasi pembuluh darah, serta membantu perbaikan fungsi motorik dan sensorik. Dengan terapi rutin, resiko kecacatan akibat stroke dapat ditekan.

Melihat urgensi tersebut, dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) melakukan program pengabdian masyarakat di Kelurahan Wonokromo. Program ini memberikan edukasi sekaligus pendampingan praktik Bobath Therapy kepada warga, terutama kelompok risiko tinggi dan penyintas stroke. Tim pengabdian ini terdiri dari Imamatul Faizah, S.Kep.Ns., M.Tr.Kep., Niken Adiba Nadya, M.D., Ph.D., Dyah Yuniati, dr., Sp.S., Yanis Kartini, S.KM., M.Kep., Ratna Yunita Sari, S.Kep.Ns., M.Tr.Kep., serta Dr. Abdul Muhith, S.Kep.Ns., MM.Kes., M.Tr.Kep.

Program ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: kehidupan sehat dan sejahtera, dengan fokus meningkatkan kesehatan masyarakat dan menurunkan angka kecacatan akibat penyakit tidak menular.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan diri, rutin memantau tekanan darah, serta aktif melakukan aktivitas fisik pencegahan. Dengan Bobath Therapy, warga tidak hanya bisa mengurangi risiko stroke, tetapi juga membantu penyintas stroke meningkatkan kualitas hidupnya.