Surabaya – Di tengah pesatnya globalisasi yang cenderung mengikis batas-batas antar negara, warisan budaya muncul sebagai alat penting untuk menjaga identitas suatu bangsa. Dengan keragaman budayanya, Indonesia memiliki kewajiban untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan ini kepada dunia. Pelestarian ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga identitas, tetapi juga untuk mendorong pertukaran pengetahuan dan memperkuat hubungan antar negara melalui kegiatan pendidikan dan budaya.
Sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai kebangsaan dan keislaman, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) turut mengambil peran dalam upaya ini melalui program BRaVe (Bridging ASEAN Virtual Exchange), yang berfokus pada kolaborasi lintas negara. Melalui program tersebut, FKIP Unusa turut berpartisipasi dengan mengadakan kegiatan bertema “Learning Indonesian Traditional Dance”. Sebanyak 15 mahasiswa asing dari Malaysia, Filipina, Timor Leste, Nigeria, Arab Saudi, dan Indonesia ikut serta dalam kegiatan pembelajaran budaya di ruang teater FKIP UNUSA.
Kegiatan ini memungkinkan para siswa untuk mengenal tarian tradisional Yamko Rambe Yamko, salah satu bentuk seni dan warisan budaya dari Papua yang menggambarkan semangat persatuan dan kekayaan budaya kepulauan Indonesia. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa program BRaVe tidak hanya memahami gerak dan irama tarian, tetapi juga dapat mengetahui sejarah dari tarian tradisional Yamko Rambe Yamko. Sehingga, dampak yang diinginkan adalah munculnya rasa saling menghargai antarbudaya, peningkatan wawasan multikultural, serta terbangunnya jejaring akademik internasional yang berkelanjutan.
Acara dimulai dengan penjelasan tentang sejarah dan makna tarian Yamko Rambe Yamko, yang disampaikan oleh dosen seni musik dan tari dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Pendidikan dan Kebudayaan (FKIP) Universitas Negeri Surabaya (UNUSA). Para mahasiswa kemudian mengikuti sesi latihan gerakan dasar secara bertahap, dimulai dengan pengenalan langkah dan ritme, kemudian menggabungkan semua gerakan untuk menciptakan tarian lengkap yang diiringi musik tradisional Papua.
Selama kegiatan ini berlangsung, mahasiswa sangat semangat dan penuh antusias serta saling bekerja sama dalam beradaptasi terhadap instruksi pengajar. Proses praktek tari Yamko Rambe Yamko ini, tidak hanya menekankan pada aspek teknis tari, tetapi juga membangun interaksi sosial antar mahasiswa yang juga berasal dari budaya yang berbeda.
Selama pelaksanaan kegiatan, beberapa tantangan termasuk perbedaan dalam hal keterampilan dasar dan bahasa di antara peserta. Tidak semua mahasiswa memiliki pengalaman menari atau memahami instruksi dalam bahasa yang sama. Namun, dosen pembimbing tari berhasil mengatasi masalah ini dengan menggunakan pendekatan demonstratif, verbal, dan visual, sehingga peserta dapat meniru gerakan dengan mudah.
Selain itu, waktu latihan yang terbatas juga menjadi tantangan. Untuk mengatasi tantangan ini, kegiatan difokuskan pada penguasaan gerakan utama dan kekompakan tim, bukan pada peningkatan teknik menari. Pendekatan ini membuat kegiatan menjadi efektif dan menyenangkan bagi semua peserta.
Menggabungkan unsur pendidikan, seni, dan diplomasi budaya dalam satu kegiatan praktek tari ini menjadi salah satu keunikan tersendiri. Mahasiswa internasional tidak hanya belajar menari, tetapi juga berinteraksi langsung dengan mahasiswa UNUSA, memahami nilai-nilai lokal, dan mengalami secara nyata bagaimana budaya menjadi sarana pemersatu lintas bangsa.
Dari kegiatan ini, para mahasiswa internasional berhasil mempelajari dan menampilkan tari Yamko Rambe Yamko dengan baik. Lebih dari itu, mereka mendapatkan pengalaman berharga tentang kerja sama, komunikasi lintas budaya, dan rasa menghargai terhadap keragaman budaya negara Indonesia. Bagi mahasiswa UNUSA sendiri, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan global serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa.
Kegiatan ini juga memperkuat citra UNUSA sebagai kampus yang aktif dalam kegiatan internasionalisasi pendidikan sekaligus menjadi wadah pelestarian budaya nasional melalui pendekatan akademik. Dari kegiatan ini, para mahasiswa internasional berhasil mempelajari dan menampilkan tari Yamko Rambe Yamko dengan baik. Lebih dari itu, mereka mendapatkan pengalaman berharga tentang kerja sama, komunikasi lintas budaya, dan penghargaan terhadap keragaman. Bagi mahasiswa UNUSA sendiri, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan global serta menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa. (***)