Probolinggo – Pondok pesantren memiliki potensi yang luas terkait dengan budidaya tanaman herbal. Ponpes memiliki keunggulan yang dibutuhkan untuk budidaya tanaman herbal ini. Keunggulan tersebut antara lain banyaknya sumber daya manusia (santri) yang jumlahnya mencapai puluhan hingga ratusan orang, kepemilikan lahan yang luas terutama yang berlokasi di area pedesaan, potensi pasar yang besar berupa masyarakat sekitar dan jejaring organisasi yang berada dibawah naungan organisasi induk dan kyai sebagai pemimpin yang kharismatik.
Dipilihnya ponpes sebagai pilot project dalam hal ini adalah karena adanya fungsi ketokohan dalam masyarakat tradisional Indonesia.
Ponpes merupakan center of excellence dalam aspek moral agama, moral kesehatan, maupun moral ekonomi bagi masyarakat sekitar ponpes. Pemberdayaan kesehatan dan ekonomi masyarakat berbasis ponpes dipandang akan memudahkan menjangkau masyarakat tradisional yang tidak tersentuh program-program pemerintah.
Kegiatan penyuluhan ini dilakukan dengan metode webinar secara online yang diinisiasi oleh Dr. Wiwik Winarningsih, dr., M.Kes dan tim. Webinar ini menjangkau santri-santri di Pondok Pesantren Zainul Hasan genggong. Sebelum dan sesudah webinar dilakukan pretest dan posttest untuk memantapkan ilmu yang terserap oleh para santri.
Pada webinar juga dijelaskan teknologi pasca panen yang merangkum cara-cara mengelola hasil panen tanaman herbal. Pertama memilah, mencuci, mengeringkan sampai tahap mengolah. Dijelaskan pula beberapa tanaman potensial yang bisa dijadikan target budidaya yaitu jahe merah, kunyit, daun salam, daun sereh, dan daun sirih.
Dengan langkah awal ini, diharapkan rangkaian panjang kerjasama pemberdayaan antara FK UNUSA dan pondok pesantren sebagai mitra terus terbina dan tersambung sampai tercipta kemandirian ponpes di bidang kesehatan dan ekonomi sehingga bisa menjadi contoh masyarakat maupun ponpes lainnya. (***)