Probolinggo – Saat ini, masyarakat banyak bergantung pada penggunaan plastik. Plastik digunakan dalam banyak hal seperti mainan, peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, hingga bungkus kemasan.
Laporan World Economic Forum pada tahun 2020 menyatakan bahwa dunia menghasilkan sekitar 300 juta ton sampah plastik setiap tahun dengan sekitar 8 juta ton sampah yang berakhir di lautan setiap tahun. Jumlah sampah plastik di Indonesia diperkirakan mencapai 66 juta ton per tahun. Sampah plastik ini tidak hanya membahayakan kehidupan ekosistem laut dan pesisir, tapi juga membahayakan kesehatan manusia dan lingkungannya.
Permasalahan plastik harus dikerjakan secara lintas sektoral, bukan hanya pemerintah, kementerian lingkungan hidup dan kehutanan, atau dinas lingkungan hidup. Pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan perlu turut andil dalam menyelesaikan masalah sampah.
Potensi pesantren yang besar dalam menangani permasalahan plastik mendorong fakultas kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya untuk berkolaborasi dengan salah satu pesantren, yakni Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Kolaborasi ini sejalan dengan visi FK UNUSA yang menjadikan kedokteran sebagai unggulan.
Program ini diinisiasi oleh salah satu dosen FK UNUSA yaitu Paramita Sari, dr., M.Sc. kolaborasi spesifik yang diberikan FK UNUSA yakni menyelenggarakan kegiatan edukasi berupa kreativitas santri dalam pengelolaan sampah plastik di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo. Hal ini dilakukan karena berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan dan mendapatkan permasalahan bahwa pondok ini kurang literasi mengenai pengelolaan plastik, sehingga upaya lanjutan untuk meningkatkan pengetahuan terkait plastik.
Program ini diikuti oleh para santri PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo, khususnya kelas X dan XI. Kegiatan ini diawali dengan pre test sebelum penyuluhan. Kemudian, tim memberikan penyuluhan mengenai cara mengelola sampah plastik, baik dari aspek lingkungan maupun kesehatan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti. Setelah itu, sesi diskusi dilakukan setelah penyuluhan berlangsung. Kegiatan ini diakhiri dengan posttest.
Dari pretest dan post test didapatkan hasil bahwa terdapat peningkatan pemahaman santri. Sehingga, disimpulkan penyuluhan yang diberikan memberi pengaruh yang bermakna.
Upaya yang dilakukan oleh FK UNUSA telah relevan dengan urgensi untuk mengelola penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pondok pesantren, pengelolaan plastik memang memerlukan upaya dan partisipasi aktif dari berbagai lapisan masyarakat. (***)