Pasuruan – Kanker payudara telah menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di kalangan wanita. Sebagian kasus kanker pada wanita terdeteksi ketika sudah stadium lanjut.
Kanker payudara memiliki prevalensi 11,6% di dunia dengan total kasus kematian hampir 6,5%. Capaian prevalensi kanker payudara di dunia diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Menurut WHO pada tahun 2018, penderita kanker di seluruh dunia mencapai 14 juta kasus dengan angka kematian 8,2 juta per tahun. Sedangkan, di Indonesia, insiden kanker di Indonesia sebesar 135 per 100.000 penduduk. Capaian tersebut membuat Indonesia menjadi negara ke 8 di Asia Tenggara dan negara ke-23 di Asia dengan insiden kanker tertinggi.
Berdasarkan alasan tersebut, mendorong Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan judul “Pengenalan Pemeriksaan Penunjang untuk Kelainan Payudara: Deteksi Dini pada Remaja Putri di Pondok Pesantren KH. Wahid Hasyim”.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengenalkan pemeriksaan penunjang sebagai pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini kanker payudara kepada santri remaja putri di lingkungan Pondok Pesantren KH. Wahid Hasyim.
Kegiatan ini melibatkan 40 santri remaja putri pondok pesantren KH. Wahid Hasyim sebagai peserta kegiatan. Kegiatan yang dilaksanakan pada bulan Mei 2024 ini diawali dengan pengisian daftar hadir. Kemudian, pengetahuan remaja diukur terlebih dahulu melalui pretest dengan 10 pertanyaan. Pemaparan materi oleh tim penyaji materi dari FK Unusa menggunakan media PowerPoint dan leaflet. Setelah pemaparan materi, terdapat sesi diskusi dan tanya jawab selama 20 menit.
Setelah sesi diskusi berakhir, tim membagikan lembar post test untuk mengevaluasi mengenai kegiatan pengabdian masyarakat ini.
Pada kegiatan ini, pengukuran tingkat pengetahuan peserta kegiatan menggunakan pretest dan posttest merupakan bagian dari pengukuran keberhasilan program dalam jangka pendek.
Harapannya, tidak hanya pengetahuan yang meningkat, tetapi juga kepekaan dan kewaspadaan diri remaja putri di pondok pesantren KH. Wahid Hasyim Bangil terhadap kelainan payudara terus meningkat. (***)