PANDEMI Covid-19 memaksa dunia pendidikan berubah secara drastis. Aktivitas belajar tatap muka terhenti, mahasiswa kehilangan suasana kelas, dan keterampilan berbahasa yang seharusnya diasah melalui interaksi langsung ikut terganggu. 

Situasi tersebut menjadi tantangan serius, sebab menyimak, berbicara, membaca, dan menulis adalah keterampilan yang tidak bisa dicapai hanya dengan membaca materi. Selain itu, juga menuntut hadirnya kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran, sekaligus dukungan infrastruktur TIK untuk menjembatani jarak antara dosen dan mahasiswa. Dari sini muncul kebutuhan mengembangkan kapabilitas teknologi yang mampu mendorong inovasi dalam pendidikan bahasa. Dari kegelisahan itu, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya merancang sebuah inovasi pembelajaran digital bernama E-Sorogan.

Peneliitian ini digagas oleh dosen Unusa, Rudi Umar Susanto bersama Syamsul Ghufron dan Endang Sulistiyani. Mereka meneliti sekaligus menerapkan pemanfaatan E-Sorogan pada mahasiswa mata kuliah Bahasa Indonesia. Tujuannya sederhana namun penting, yaitu mendeskripsikan bagaimana ruang belajar daring yang bukan hanya menyampaikan teori, tetapi juga memungkinkan mahasiswa berlatih keterampilan bahasa secara nyata.

Mahasiswa mengakses platform ini melalui laman resmi, kemudian memanfaatkan fitur-fitur utama yang tersedia. Forum diskusi menjadi tempat berlatih membaca dan menulis, sementara video conference memberi kesempatan mahasiswa untuk menyimak dan berbicara secara langsung bersama dosen dan teman-temannya. Penugasan memperkuat keterampilan menulis, sedangkan uji coba Virtual Reality membuka pengalaman belajar yang lebih imersif, seolah kembali ke ruang kelas fisik.

Tentu saja pelaksanaannya tidak tanpa hambatan. Sebagian mahasiswa masih kesulitan memahami fungsi fitur yang ada. Namun, melalui sosialisasi dan pendampingan, hambatan ini dapat diatasi. Hasilnya cukup meyakinkan. Sembilan puluh persen mahasiswa menyatakan sangat memahami manfaat E-Sorogan, sementara sisanya masih dalam tahap cukup paham.

Keunggulan utama platform ini terletak pada kesesuaian fitur dengan kebutuhan pembelajaran bahasa. Penelitian menunjukkan seratus persen keterampilan bahasa dapat difasilitasi dengan fitur yang tersedia. Forum diskusi menjadi yang paling populer dan digunakan seluruh mahasiswa, diikuti video conference sebanyak delapan puluh persen, penugasan lima puluh persen, serta fitur lain termasuk Virtual Reality sekitar sepuluh persen. Data ini menunjukkan bahwa E-Sorogan benar-benar dapat mendukung proses belajar bahasa dengan efektif.

E-Sorogan membawa pesan penting bahwa teknologi digital bukan hanya solusi sementara di masa krisis, melainkan mitra jangka panjang dalam pendidikan. Melalui platform ini, mahasiswa tidak hanya bertahan menghadapi pandemi, tetapi juga tumbuh dengan keterampilan bahasa yang lebih kuat. Inovasi ini membuktikan bahwa perguruan tinggi di Indonesia mampu menghadirkan terobosan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Dari Surabaya, Unusa menegaskan bahwa transformasi digital dalam pendidikan bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Kehadiran E-Sorogan adalah contoh bagaimana pendidikan tinggi dapat memadukan teknologi, budaya, dan nilai akademik untuk menyiapkan generasi yang lebih adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (***)