SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID – Wajah sumringah kini menghiasi warga Kampung Kendangsari RW 05Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Surabaya. 

Air selokan yang sebelumnya hanya menjadi aliran limbah, kini berubah menjadi sumber daya berharga untuk menyokong kehidupan sehari-hari mereka. Inovasi ini terwujud berkat sinergi kuat antara akademisi, masyarakat, dan dukungan pemerintah kota.

Kampung yang dikenal sebagai sentra hidroponik ini sebelumnya sering terkendala pasokan air untuk merawat aneka sayuran yang mereka kembangkan di setiap sudut gang.

Namun, kekhawatiran itu kini sirna setelah Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menghadirkan teknologi tepat guna bernama “Unusa Water”.

“Alhamdulillah warga senang. Tak lagi pusing untuk kebutuhan siram-siram tanaman di kampung hidroponik,” ujar Marto, Ketua RW 05, Minggu 31 Agustus 2025.

Menurutnya, air hasil olahan Unusa Water tidak hanya digunakan untuk menyiram tanaman, tetapi juga untuk mencuci motor dan keperluan sanitasi lainnya. Warga bahkan optimistis, ke depan air ini dapat dikembangkan untuk kebutuhan cuci pakaian hingga mandi.

Unusa Water merupakan alat penjernih air yang dirancang dengan teknologi sederhana namun efektif. Air dari selokan terlebih dahulu melewati tahap pra-filtrasi menggunakan bahan-bahan alam seperti pasir, karbon aktif (arang), dan batuan zeolit untuk memisahkan lumpur dan kotoran kasar. 

Setelah itu, air diproses lebih lanjut hingga jernih dan ditampung dalam tandon yang siap dimanfaatkan warga.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari inisiasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unusa yang didukung penuh oleh pihak kecamatan, kelurahan, serta Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah.

Acara peresmian pemanfaatan alat ini turut dihadiri oleh Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie; Ketua LPPM Unusa, Achmad Syafiuddin; Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji; dan Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Laila Mufidah.

Kehadiran para tokoh ini menjadi bukti komitmen bersama dalam mendorong solusi inovatif yang lahir dari kolaborasi.

“Masyarakat Kendangsari tak lagi pusing melihat hidroponik dan tanaman potnya mati karena kesulitan air. Sudah ada tandon dari selokan yang aman, mudah, dan praktis. Tolong alatnya dijaga dan dimanfaatkan bersama,” pesan Laila Mufidah. 

Dalam kesempatannya, Laila Mufidah mengapresiasi semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Kendangsari dan kepedulian Unusa. Menurutnya, inilah contoh nyata bagaimana kota dapat dibangun secara kolektif.

“Kampung Kendangsari telah menunjukkan kebersamaan dalam membangun kota. Ini adalah bukti bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, sektor swasta melalui CSR, dan masyarakat dapat menghasilkan pemberdayaan yang nyata,” tegas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Ning Laila menambahkan, membangun Surabaya sebagai Kota Pahlawan yang maju dan inklusif membutuhkan partisipasi semua pihak. Setiap langkah kecil yang dimulai dari tingkat kampung akan memberikan dampak besar bagi kemajuan bersama.

“Saya yakin banyak pihak yang peduli dan bisa berkontribusi. Kolaborasi seperti ini harus terus didorong agar tidak ada yang tertinggal dalam pengembangan inovasi yang berkelanjutan,” tutupnya.

Sebagai pelengkap, selain Unusa Water, LPPM Unusa juga memberikan bantuan berupa insinerator, sebuah alat pengolah sampah ramah lingkungan yang dapat menggunakan minyak jelantah sebagai bahan bakarnya. 

Bantuan komprehensif ini diharapkan dapat menjadikan Kampung Kendangsari sebagai percontohan lingkungan yang mandiri dan berkelanjutan.

Sumber : https://memorandum.disway.id/