BELAKANGAN ini, produk kosmetik telah menjadi kebutuhan dasar bagi orang-orang yang ingin tampil menarik, tanpa memperhatikan ada atau tidaknya kandungan dan izin distribusi yang terdaftar di BPOM. Situasi ini kadang dimanfaatkan oleh beberapa pelaku bisnis untuk meraih keuntungan dengan keluar dari peraturan, seperti menjual krim pencerah yang mengandung bahan berisiko seperti merkuri.Menanggapi hal tersebut Dosen Fakultas Kesehatan UNUSA melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di SMK Muhammadiyah I Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur, dengan fokus utama pada pelatihan membuat alat deteksi merkuri yang sederhana dan efektif.
Kegiatan ini dimulai dengan seminar edukasi yang menjelaskan bahaya dan sumber paparan merkuri, serta prinsip pembuatan dan penggunaan alat deteksi sederhana. Setelah itu, 47 siswa mendapatkan pelatihan praktis membuat kit deteksi merkuri berbasis reaksi antara merkuri dan senyawa difenilkarbazida, yang akan menghasilkan warna ungu bila merkuri terdeteksi dalam sampel.
Kegiatan ini bertujuan tidak hanya meningkatkan pengetahuan peserta, tetapi juga keterampilan mereka dalam melakukan pengujian sendiri terhadap bahan yang mengandung merkuri. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ini sangat berhasil meningkatkan pemahaman peserta dalam berbagai aspek. Terdapat peningkatan pemahaman sebesar 32% tentang merkuri dan bahaya intoksikasinya, serta peningkatan 38% dalam pemahaman dan keterampilan membuat kit deteksi. Bahkan, kemampuan peserta dalam mengenali dan melakukan deteksi merkuri menggunakan kit sederhana meningkat sebesar 57%.
Selain itu, kegiatan ini membantu siswa memahami pentingnya pola konsumsi yang bertanggung jawab, terutama terkait kosmetik dan makanan yang berpotensi tercemar merkuri. Mereka diharapkan mampu mengedukasi lingkungan sekitar tentang bahaya pencemaran merkuri, sekaligus mampu melakukan deteksi secara mandiri.
Pelatihan pembuatan kit deteksi merkuri sederhana ini menunjukkan bahwa edukasi, pelatihan praktis, dan kesadaran akan bahaya merkuri dapat berjalan beriringan untuk melindungi kesehatan dan lingkungan. Kegiatan ini bukan hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga memberdayakan mereka untuk menjadi agen perubahan yang peduli dan mampu melakukan langkah-langkah tepat dalam mengidentifikasi risiko pencemaran merkuri di sekitar mereka.(***)