MENYUSUI adalah hak sekaligus kewajiban seorang ibu untuk memberikan yang terbaik bagi buah hatinya. Pemerintah sudah menghadirkan berbagai regulasi yang mendukung ibu bekerja agar tetap bisa menyusui. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa persentase ibu bekerja yang menyusui tidak jauh berbeda dengan ibu yang tidak bekerja. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin di wilayah Kelurahan Wonokromo.

Pendataan setempat menunjukkan dari 26 bayi berusia 0–6 bulan, hanya 9 yang mendapatkan ASI. Faktor utama yang menyebabkan rendahnya angka menyusui antara lain ASI yang tidak lancar, keterbatasan pengetahuan tentang cara memerah dan menyimpan ASI, minimnya dukungan keluarga maupun lingkungan, serta budaya pemberian susu formula yang masih kuat.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk membantu ibu menyusui adalah dengan menghadirkan pelancar ASI berbahan herbal. Tanaman pelancar ASI yang banyak dijumpai di sekitar masyarakat dapat diolah menjadi makanan dan minuman sehat. Melalui budidaya tanaman ini, tidak hanya kebutuhan ibu menyusui yang terbantu, tetapi juga membuka peluang usaha bagi kader dan masyarakat setempat.

Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan UNUSA berperan aktif dalam mendampingi masyarakat Kelurahan Wonokromo melalui program pengabdian masyarakat. Kegiatan ini mendorong kader untuk membudidayakan tanaman pelancar ASI, sehingga tersedia bahan baku alami yang mudah dijangkau sekaligus berpotensi menambah penghasilan.

Langkah sederhana ini diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif sekaligus memberdayakan masyarakat. Dengan dukungan semua pihak, tercipta lingkungan yang lebih ramah bagi ibu menyusui, sehat untuk bayi, dan produktif bagi keluarga.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Budidaya tanaman pelancar ASI mendukung SDG 3 dengan meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, serta SDG 2 melalui pemenuhan gizi bayi sejak dini.

Selain itu, pemberdayaan kader dan masyarakat turut berkontribusi pada SDG 5 dengan memperkuat peran ibu menyusui, sekaligus mendorong SDG 8 melalui peluang usaha berbasis sumber daya lokal. Dengan demikian, program ini memberikan dampak positif yang tidak hanya dirasakan pada aspek kesehatan, tetapi juga sosial, ekonomi, dan keberlanjutan.(***)